Dampak Wabah Bangkai Babi, Pengelola Wisata Danau Siombak Merugi hingga 30 Persen

Bangkai babi yang dibuang secara sembarangan itu turut membuat Danau Siombak jadi sepi. Danau Siombak pengunjung men

Dampak Wabah Bangkai Babi, Pengelola Wisata Danau Siombak Merugi hingga 30 Persen
Tribun Medan/M Andimaz Kahfi
Bangkai Babi yang mencemari Danau Siombak dihalau dengan bambu oleh pengelola Desa Wisata Danau Siombak, Selasa (12/11/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Merebaknya virus hog cholera yang menjangkiti hewan ternak babi hingga akhirnya mati dan dibuang oleh peternak di aliran sungai, ternyata berdampak luas di masyarakat.

Bangkai babi yang dibuang secara sembarangan itu turut membuat tempat rekreasi Desa Wisata Danau Siombak yang biasanya dibanjiri pengunjung menjadi sepi.

Pengelola Desa Wisata Danau Siombak, Hj Mustika Guna Hasibuan mengatakan bahwa sudah tiga minggu terakhir bangkai babi meneror masyarakat khususnya mereka sebagai pengelola Desa Wisata Danau Siombak.

"Jadi berita soal bangkai babi ini baru seminggu ini viral di medsos. Tapi sudah tiga Minggu ini, kami mengevakuasi sendiri bangkai-bangkai babi tersebut," kata Mustika di Desa Wisata Danau Siombak, Selasa (12/11/2019).

Disebutkan Mustika, setelah virus hog cholera yang menyerang babi menyebar dan viral di media sosial, 

berdampak kepada jumlah pengunjung di Desa Wisata Danau Siombak. 

Pengunjung menjadi berkurang. Karena baunya cukup menyengat dan 

sudah berapa hari. Hingga dari hari ke hari baunya semakin menyengat dan busuk.

"Jumlah pengunjung yang berkurang ada sekitar 30 persen. Untuk pengunjung biasa di hari minggu bisa mencapai 1.500 pengunjung. Kalau tidak ada bookingan sekitar 1.100 pengunjung," ujarnya.

"Setelah ada wabah bangkai babi pengunjung turun. Sekarang rata-rata hanya sekitar 800-an pengunjung," sambungnya.

Halaman
12
Penulis: M.Andimaz Kahfi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved