Bos LJ Hotel Medan jadi DPO Kasus Penipuan dan Pengelapan, Pemilik Lahan Desak Tangkap

Bahkan informasi yang dihimpun Tribun, sejak 4 Juli 2019, statusnya sudah menjadi DPO karena hingga kini keberadaannya belum diketahui

Bos LJ Hotel Medan jadi DPO Kasus Penipuan dan Pengelapan, Pemilik Lahan Desak Tangkap
TRIBUN MEDAN/VICTORY HUTAURUK
Surat Daftar Pencarian Orang (DPO) dengan tersangka Abdul Latif selaku pemilik LJ Hotel Prima Medan dalam kasus penipuan dan penggelapan yang dikeluarkan Polda Sumut. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kasus penipuan dan penggelapan yang menjerat Bos PT LJ Hotel Prima, Abdul Latif ternyata telah menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO) oleh Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu). 

Bahkan informasi yang dihimpun Tribun, sejak 4 Juli 2019, statusnya sudah menjadi DPO karena hingga kini keberadaannya belum diketahui atau melarikan diri.

Hal tersebut terungkap setelah pemilik lahan diatas berdirinya Hotel LJ tersebut di Jalan Perintis Kemerdekaan No.17 A, Gaharu, Kecamatan Medan Timur yakni Tatarjo Angkasa, melalui kuasa hukumnya, Leden Simangunsong dan Panca Indra Yusani di Pengadilan Negeri Medan, Rabu (13/11/2019).

"Klien kita, Tatarjo Angkasa sudah melaporkan, Abdul Latif ke Polda Sumut pada 27 Desember 2018, sesuai dengan LP/1778/XII/2018/SPKT/1. Terkait kasus dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan sebagaimana dalam Pasal 378 dan Pasal 372 KUHPidana," ungkap Leden. 

Ia juag menegaskan, bahwa kliennya selaku korban mendesak agar pihak kepolisian Polda Sumut .agar segera menangkap Abdul Latif.

"Awal Bulan Juli 2019 itu terlapor telah ditetapkan sebagai DPO oleh Poldasu, artinya ini telah berapa bulan berlalu. Maka kami meminta agar kepolisian segera menangkap Abdul Latif," tegas Leden.

Lebih lanjit, ia menjelaskan kasus ini bermula dari sewa menyewa tanah dan bangunan yang terletak di jalan Perintis Kemerdekaan No.17 A Medan. 

Dimana, Leden menjelaskan bahwa Abdul Latif telah menyewa tanah dan bangunan milik Tatarjo yang dijadikan sebagai usaha LJ Hotel. Sewa Menyewa tersebut tertuang didalam akte perjanjian sewa menyewa Nomor 2 tanggal 02 Agustus 2018 yang dibuat dihadapan notaris Poeryanti Poedjiaty. 

"Tetapi selama perjanjian klien kami sudah dirugikan karena tersangka sudah menguasai tanah dan bangunan sampai sekarang. Tanpa lagi membayar sewa kepada klien kami sebagai pemilik lahan dan bangunan. Memang Abdul Latif ada memberikan Bilyet Giro yang setelah dikliringkan ternyata tidak dapat diuangkan, oleh karenanya Klien kami sudah sangat dirugikan," tambahnya.

Kuasa hukum lainnya, Panca menambahkan dalam kasus ini anehnya Tatarjo Angkasa selalu pemilik malah digugat oleh PT LJ Hotel Prima Indonesia ke Pengadilan Negeri Medan dengan dasar-dasar dan alasan-alasan gugatan yang tidak jelas.

Halaman
12
Penulis: Victory Arrival Hutauruk
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved