Giliran Samosir Diserang Virus Hog Cholera, 130 Babi Mati

Akibat virus ini, menyebabkan kematian 130 ternak babi milik warga, yang terdiri dari 122 babi induk dan 8 babi anak.

Giliran Samosir Diserang Virus Hog Cholera, 130 Babi Mati
TRIBUN MEDAN/DOHU LASE
FOTO ILUSTRASI 

TRIBUN MEDAN.COM, SAMOSIR -Setelah Beberapa Kabupaten sekawasan Danau Toba terjangkit virus babi atau Virus Hog Cholera, Samosir pun belakangan turut diserang virus tersebut. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Samosir, Victor Sitinjak mengatakan virus tersebut menyebar dan menyerang ternak di Kecamatan Pangururan, Simanindo, Harian, Palipi dan Sianjurmula.

"Akibat virus ini, menyebabkan kematian 130 ternak babi milik warga, yang terdiri dari 122 babi induk dan 8 babi anak,"ujar Viktor di Pangururan, Kamis (14/11/2019).

Masing-masing di Kecamatan Pangururan ada 33 ekor ternak yang mati, Kecamatan Harian 4 ekor mati, Kecamatan Simanindo 1 ekor mati dan Kecamatan Palipi 4 ekor mati dan Kecamatan Sianjurmula 88 ekor.

Kata Viktor, pihaknya telah menghimbau semua peternak dan pedagang ternak babi di Kabupaten Samosir untuk sementara tidak mendatangkan ternak babi dari luar Samosir. Memcegah penyebran virus, jedepannya, Dinas Pertanian dan Satpol-PP Samosir akan melakukan razia mengawasi dan melarang masuknya ternak babi ke Samosir dari luar Kabupaten Samosir.

Dia juga manganjurkan kepada warga agar segera melapor ke pihak terkait jika menemukan tanda-tanda pada ternak babi. "Bagi peternak, bila ada babi yang sakit dan mati mendadak segera laporkan kepada petugas peternakan atau PPL setempat,"tambahnya.

Disebut Victori, mereka telah melakukan sosialisasi untuk selalu membersihkan kandang dengan menyemprotkan desinfektan minimal 1 x 2 hari.

Sementara itu, Staf KSPPM (Kelompok Study Pengembangan Prakarsa Masyarakat) wilayah Samosir Fredy Simanungkalit menghimbau kepada para petani untuk tidak membuang ternak babi yang mati ke sungai atau ke hutan.

"Kami menghimbau kepada seluruh peternak yang ternak babinya mati karena virus ini agar mengubur bangkai babi tersebut dengan kedalaman minimal 2 meter dan jangan membuangnya ke hutan, sungai apalagi ke Danau Toba untuk mencegah meluasnya virus tersebut," ujar Simanungkalit.

Sebelumnya, KSPPM bersama Serikat Tani Kabupaten Samosir (STKS) telah pernah beraudensi dengan Dinas Pertanian Samosir terkait pencegahan penyakit pada ternak.

"Kami pernah meminta mereka untuk berkunjung ke kelompok tani guna melakukan vaksinasi dan pemberian vitamin pada semua ternak khususnya Babi. Kami tidak tau apakah itu dilakukan atau tidak, namun apa yang kami khawatirkan akhirnya terjadi pada ternak warga," pungkasnya.

(jun-tribun-medan.com)

Penulis: Arjuna Bakkara
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved