Sering Sambut Pejabat Lewat Silat Mandailing, Pesilat Tetap Kurang Perhatian

Sudah belasan tahun Suhdi menggeluti seni bela diri Silat Mandailing hingga dipanggil panggil ke acara acara tertentu.

Sering Sambut Pejabat Lewat Silat Mandailing, Pesilat Tetap Kurang Perhatian
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Pesilat Mandailing, Suhdi Batubara. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Suhdi Batubara bisa dikatakan salah satu pesilat yang jarang bisa ditemui saat ini. Apalagi ia merupakan pesilat khas Mandailing Natal yang tergolong sulit ditemukan di Kota Medan

Suhdi berasal dari Kesenian Mandailing Gunung Kulabu. Sudah belasan tahun Suhdi menggeluti seni bela diri Silat Mandailing hingga dipanggil panggil ke acara acara tertentu, bahkan kerap menyambut tamu kehormatan.

"Jadi saya sudah jadi pesilat Mandailing sejak Gubernur Sumut Raja Inal Siregar sampai dengan yang sekarang ini. Saya sempat kemarin itu juga main di acara ngunduh mantu pernikahan putri Presiden Joko Widodo Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution," ujar Suhdi.

Kerap menyambut kedatangan para pesohor negeri tak membuat profesi yang digeluti Suhdi Batubara ini menarik secara ekonomi. Ia sendiri mengaku honor yang didapat tergolong kecil.

"Silat yang saya mainkan ini perintah raja. Perintah itulah yang menanamkan diri saya untuk melestarikannya. Bagaimana tamu itu gak boleh kena duri, kira kira begitu," cerita Suhdi

"Kalau dibilang berapa honor, ya, kecil dapatnya. Harapannya ada perhatian untuk melestarikan silat ini," katanya.

Silat yang dimainkan Suhdi terlihat seperti menari, membuka jalan bagi tamu kehormatan. Konon silat pembuka jalan ini dimainkan saat kedatangan raja-raja di tanah Mandailing. Di Mandailing silat ini sering disebut Moncak.

Teranyar, Suhdi dan kawan kawan dipanggil membuka jalan untuk kedatangan beberapa tamu undangan, seperti Moeldoko dalam pernikahan keluarga kerajaan Huristak, Jumat (8/11/2019) lalu di Medan.

Perlu diketahui, Moncak bisa dikatakan bukan hanya seni bela diri dalam konteks budaya Mandailing. Moncak juga merupakan tarian yang gerakan-gerakannya disesuaikan dengan musik pengiringnya

Biasanya, Moncak ditampilkan pada saat prosesi upacara pesta pernikahan, penyambutan tamu kehormatan, kelahiran anak, atau prosesi adat yang dibarengi dengan menyembelihan kerbau.

Pemain biasanya menggunakan seragam dengan pola warna budaya Mandailing Julu dan Mandailing Godang serta Mandailing Angkola, yakni yang didominasi hitam dan merah serta putih

(cr15/tribun-medan.com)

Penulis: Alija Magribi
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved