Breaking News:

Warga Enggan Makan Ikan Laut Akibat Kampanye Negatif Bangkai Babi, Distanla Medan Turun Tangan

Banyaknya ditemukan bangkai babi di sungai dan danau membuat banyak masyarakat khawatir untuk mengkonsumsi ikan

(KOMPAS/YUNIADHI AGUNG)
Ilustrasi 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Banyaknya ditemukan bangkai babi di sungai dan danau membuat banyak masyarakat khawatir untuk mengkonsumsi ikan laut.

Hal ini merugikan banyak pihak seperti nelayan, penjual ikan, hingga pemilik rumah makan.

Dari pantauan Tribun Medan, ikan laut di pasar mengalami penurunan harga. Rata-rata ikan laut dijual Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu.

Kekhawatiran masyarakat bermacam-macam, ada yang takut tertular penyakit Hoc Cholera hingga kehalalan ikan tersebut yang ditakutkan memakan bangkai babi.

Melihat masalah ini, Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan mengimbau agar masyarakat tidak khawatir untuk mengkonsumsi ikan laut.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan Ikhsar Rasyid Marbun kepada Tribun Medan, Rabu (20/11/2019).

"Sebenarnya ikan laut didapatkan nelayan dari tengah laut, bukan di muara sungai. Jadi sebenarnya tidak ada pengaruh. Hanya saja penyebaran informasi yang tidak terverifikasi melalui media sosial membuat masyarakat malas konsumsi ikan," ujar Ikhsar.

Untuk menggenjot minat masyarakat agar kembali mengkonsumsi ikan laut, saat ini pihaknya melakukan penyuluhan. Sosialisasi dilakukan ke berbagai pusat perbelanjaan hingga ke pasar tradisional.

"Kita sosialisasi terus masyarakat, Penyuluh dari Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan juga sedang melakukan sosialisasi saat ini. Berbagai upaya terus kita lakukan dalam menjelaskan pada masyarakat bahwa ikan kita berada dari tengah laut tidak ada dari tepi pantai Belawan," ungkapnya.

Ia mengimbau untuk masyarakat jangan ragu untuk makan ikan. Selain itu kata Ikhsar ikan juga tidak akan terkena Hoc Cholera.

Dikatakan Ikhsar minat masyarakat Kota Medan untuk mengkonsumsi ikan tetap ada walaupun ada pengurangan.

"Memang yang kita temukan di pasaran, minat masyarakat untuk makan ikan laut tetap ada walaupun ada pengurangan. Kami mengimbau agar jangan takut untuk konsumsi ikan laut," pungkasnya.

Pada kesempatan berbeda Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Dr. H. Hasan Matsum, M.Ag saat dihubungi Tribun Medan mengatakan dalam hukum Islam pada prinsipnya yang haram itu jelas, yang halal itu jelas.

"Di antara keduanya itu ada keragu-raguan. Bagi orang yang ingin menjaga kesucian dirinya tentunya menghindari keragu-raguan. Dalam persoalan makanan, prinsipnya bisa kita lihat. Kalau memang makanan yang kita makan itu ada indikasi kuat memang kotor maka jelas itu dilarang walapun kita ragu," katanya.

Ia mencontohkan, kata Rasulullah ada keledai di sebuah perkampungan yang memakan kotoran. Rasulullah berkata keledai tersebut jangan ditunggangi dan jangan diminum air susunya. Hal tersebut dilarang karena ada indikasi kuat bahwa keledai itu memang makan kotoran.

"Mengenai ikan, apakah ada indikasi kuat keyakinan kita bahwa dia makan daging bangkai babi tersebut. Kalau indikasinya tidak kuat atau sangat meragukan, maka ada satu kaedah hukum dalam Islam, 'Yakin itu tidak bisa dihilangkan dengan keragu-raguan'. Kalau memang keyakinan asal kita bahwa ikan itu halal sedangkan ada keraguan kita dia mengkonsumsi suatu yang haram padahal tidak nyata," katanya.

Ia menjelaskan "nyata itu begini, ada ikan kita masukkan ke dalam kolam, nyata ke dalam kolam tersebut kita masukkan bangkai babi, ada indikasi kuat dia makan bangkai babi itu, jangan dikonsumsi," katanya

"Nah ini ikannya di laut yang tidak ada indikasi bisa digiring bahwa ikan makan bangkai babi. Maka itu tingkat keraguan tertinggi. Yakin kita pada hukum asalnya, ikan itu adalah halal. Sedangkan untuk memakan yang haram itu tingkatnya ragu. Kembali lagi, 'Yakin itu tidak bisa dihilangkan dengan keragu-raguan'. Jadi kembali pada hukum asal ikan itu, ya halal," pungkasnya.

(cr18/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved