Breaking News:

Tanah Ambles di Tanah Pinem, Pemkab Dairi Diminta Tetapkan Status Siaga Darurat

Kedalaman lubang mencapai 15 meter dan berdiameter delapan meter. Empat rumah warga, yang tercakup dalam radius lingkaran lubang, rusak.

Penulis: Satia |
BPBD DAIRI
Potret bagian belakang rumah yang rusak akibat masuk dalam radius lubang misterius di Kutanangka, Desa Kempawa, Kecamatan Tanah Pinem, Kabupaten Dairi, Selasa (19/11/2019). 

TRIBUN MEDAN.com - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Utara, Riadil Akhir Lubis meminta pemerintah kabupaten Dairi memberlakukan siaga darurat terkait tanah ambles di kawasan permukiman Dusun Kutanangka, Desa Kempawa, Kecamatan Tanah Pinem.

"Jadi langkah BPBD Sumut dengan melihat risiko ini melakukan siaga darurat lokal, karena ancamannya diprediksi menimbulkan korban/kerugian. Bukan menunggu hasil penelitian sebab untuk itu Pemkab Dairi sudah melakukannya. Saya juga sudah menyampaikannya ke Badan Geologi/PVMBG di Bandung," katanya.

Kedalaman lubang mencapai 15 meter dan berdiameter delapan meter. Empat rumah warga, yang tercakup dalam radius lingkaran lubang, rusak. Untungnya, cuma bagian belakang rumah. Kini empat keluarga yang menghuni rumah-rumah tersebut sudah mengungsi ke rumah tetangga.

Pihaknya sudah menyurati Badan Geologi dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah disurati untuk segera menyikapi ini, melalui penelitian yang dilakukan nanti.

Sejumlah rekomendasi telah  dikeluarkan BPBD Sumut menyikapi fenomena alam yang sudah kali kedua terjadi di Dairi. Yakni pertama, jika mengetahui ancaman yan paling berisiko massif (penyebaran meningkat/meluas), warga/permukiman harus diungsikan ke tempat lebih aman.

"Kami sudah meminta kepada BNPB dan Badan Geologi untuk melakukan penelitian gerakan tanah dan longsor ini. Jika sudah diketahui penyebabnya maka dilakukan mitigasi struktural dan nonstruktural berupa tindakan fisik lapangan melalui pengurangan risiko dan pemasangan rambu-rambu atau papan informasi ancaman bahaya di sekitar lokasi atau menuju lokasi," papar dia.

Prinsipnya untuk menyikapi fenomena alam ini, sambung Riadil, terlebih yang berpotensi menimbulkan korban atau kerugian material dan dampaknya, harus dilakukan evakuasi manusianya/warga terlebih dahulu.

"Untuk itu Pemkab Dairi sudah mensosialisasikannya kepada masyarakat," katanya.

Tanah amblas terjadi di Dairi setelah hujan deras yang melanda kawasan itu pada 17 November 2019. Akibatnya terbentuk lubang dengan diameter 8 meter dan kedalaman 15 meter di sana. Bagian dapur rumah warga ikut amblas. Demi keselamatan, empat keluarga penghuni rumah di sekitar lubang harus mengungsi ke kediaman tetangga yang dinilai lebih aman. (cr19/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved