Diikuti 5 Negara, Sampah Plastik Jadi Tiket Masuk Perayaan Hari Anak Internasional

Ratusan anak asal Afganistan, Myanmar, dan Turki berkolaborasi dengan anak Indonesia dalam acara perayaan Hari Anak Internasional

Diikuti 5 Negara, Sampah Plastik Jadi Tiket Masuk Perayaan Hari Anak Internasional
TRIBUN MEDAN/GITA TARIGAN
Kemeriahan perayaan Hari Anak Internasional yang digelar di Taman Ahmad Yani Medan, Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Medan Maimun, Minggu (24/11/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Ratusan anak asal Afganistan, Myanmar, dan Turki berkolaborasi dengan anak Indonesia dalam acara perayaan Hari Anak Internasional yang digelar di Taman Ahmad Yani Medan, Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Medan Maimun, Minggu (24/11/2019).

Mengangkat tema mewujudkan lingkungan terbaik untuk anak, even ini menghadirkan berbagai kegiatan kreatif seperti mengolah sampah plastik menjadi ekobrik, belajar biopori, serta dimeriahkan pula dengan perlombaan mading daur ulang dan permainan tradisional.

"Kita melibatkan anak-anak yang notabenenya berada di negara konflik. Kita ajak mereka berkolaborasi dengan anak-anak pinggiran sungai deli, anak tinggal di sekitaran rel, dari lauser, yatim dan duafa," tutur Ketua Panitia, Adryan Dwi Pradipta.

Melalui kegiatan ini, Adryan dan rekan lainnya yang berasal dari 6 komunitas, memiliki misi agar anak-anak sejak dini sudah diajarkan peluli lingkungan dan bahaya sampah.

Mendukung hal tersebut, peserta yang ingin masuk, dikenakan tiket, yakni wajib membawa 10 sampah plastik dan satu botol plastik bekas. Selanjutnya tiket masuk tersebut akan diolah menjadi ekobrik yang dapat menghasilkan barang yang bernilai seperti kursi, meja, dan lainnya.

"Ada sekitar 200 anak yang terlibat. Tujuan kita selain misi lingkungan, tentunya agar anak-anak yang hidup di zona konflik bisa berbaur dengan anak Indonesia terutama Medan. Dan sebaliknya anak-anak Medan juga bisa belajar bagaiamana mereka berjuang selama ini," katanya.

Adryan mengatakan setiap anak berhak bahagia, bagaimana pun kondisinya. Untuk memberi motivasi, sebagai pembuka acara, anak-anak disuguhkan film dokumenter bagaimana kehidupan anak di belahan dunia. Hal tersebut berguna agar mengajak peserta bersyukur dan memotivasi mereka agar lebih bersemangat menjalani kehidupan.

"Selain itu kita juga mewajibkan anak-anak memberi penampilan seni, karena inilah hari raya mereka. Ada juga lomba mewarnai, lomba daur ulang, dan lubang biopori. Lubang biopori adalah lubang silindris yang dibuat masuk ke dalam tanah secara vertikal, sebagai metode resapan air, yang tujuannya untuk mengurangi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah, sehingga mencehagah banjir," katanya.

Ia berharap kegiatan ini dapat dilaksanakan setiap tahunnya. Adryan juga berpendapat kepada pemerintah tidak perlu melaksanakan perayaan yang mewah di hari anak, cukup dengan kesederhanaan, namun dipenuhi kegiatan edukatif.

"Kalau bisa jadilah agenda rutin, tidak perlu dengan acara yang besar, namun kinsisten, rutin. Tidak perlu biaya besar, dengan begini kita main di outdoor mereka sudah senang," katanya.

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved