Medan Masuk 10 Besar Kota Intoleran, Wakil Ahmadiyah: Kita Ingin Bumikan Toleransi dan Kasih Sayang

Sejumlah tokoh perwakilan agama, mahasiswa dan pelajar berkemah semalam dalam agenda peringatan Hari Toleransi Sedunia

Medan Masuk 10 Besar Kota Intoleran, Wakil Ahmadiyah: Kita Ingin Bumikan Toleransi dan Kasih Sayang
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Kemah Kebangsaan yang dihadiri sejumlah perwakilan agama di Masjid Mubarak Jalan Pasar III, No.1, Medan. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sejumlah tokoh perwakilan agama, mahasiswa dan pelajar berkemah semalam dalam agenda peringatan Hari Toleransi Sedunia.

Acara yang digagas Kopi Toleransi digelar di Lapangan Masjid Mubarak Jalan Pasar III, No.1 Kota Medan selama dua hari, Sabtu-Minggu (23-24/11/2019).

Begitu hangat terasa, mana kala seluruh elemen agama dapat bergabung bersama mahasiswa dan pemuda dalam semalam. Bincang bincang terkait keberagaman dibahas dengan kekeluargaan di sini.

Muhammad Idris, salah satu penggagas acara mengatakan tokoh dari berbagai agama, seperti Islam (NU dan Ahmadiyah), Protestan, Katholik, Buddha, Baha'i, dan Parmalim berbaur dalam toleransi.

"Jadi ini dalam rangka memperingati hari toleransi sedunia. Nah kita ingin membumikan toleransi dan kasih sayang di sini. Kita mengajak segala elemen ayo bermalam, bercerita dengan waktu lebih panjang," ujar Muhammad Idris mewakili Ahmadiyah.

Idris mengatakan mereka mengajak generasi muda agar memahami keberagamannya. Sebab dari toleransi ini lah keutuhan negara semakin kokoh.

Hal lain yang tak kalah penting adalah upaya mengubah Kota Medan, yang termasuk 10 Besar Kota Intoleran di Indonesia dalam riset Setara Institut Tahun 2018. Medan bahkan kalah dari Pematangsiantar yang hidup plural tanpa konflik sejauh ini.

"Kenyataan ini menjadi motivasi untuk kita supaya toleransi membumi di Medan. Mengubah wajah Medan dari yang 10 besar Intoleran menjadi penuh kasih sayang," kata Idris.

Apa yang dikatakan Idris diamini Irham Hadi, yang datang mewakili penganut Baha'i. Kemah kebangsaan adalah kegiatan yang sangat bagus.

"Karena berbagai latar belakang berkumpul dari ras, suku, agama yang berbeda, jadi bahkan kegiatan seperti lebih sekadar dari tujuan, tapi alat yang ampuh untuk menuju perbaikan bangsa indonesia berbasis kesatuan," jelasnya.

Di kalangan mahasiswa, turut hadir dari UINSU, Universitas Katholik Santo Thomas, STT Abdi Sabda, Boddhicita. Adapaun sejumlah pelajar datang diantaranya dari Imelda, SMA Negeri 7, SMA Negeri 10.

(cr15/tribun-medan.com)

Penulis: Alija Magribi
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved