Nata Simangunsong: Kegagalan PSMS Ini Sudah Kami Prediksi Dari Awal

PSMS Medan sudah gagal pada kompetisi Liga 2 musim ini. Mereka hanya finish di babak perempat final saja.

Nata Simangunsong: Kegagalan PSMS Ini Sudah Kami Prediksi Dari Awal
TRIBUN MEDAN/ILHAM FAZRIR HARAHAP
Penggila PSMS, Wahyudinata Simangunsong 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - PSMS Medan sudah gagal pada kompetisi Liga 2 musim ini. Mereka hanya finish di babak perempat final saja.

Tekad menuju Liga 1 musim depan harus dikubur dalam-dalam.

Mau tak mau PSMS mengulang kembali dari naik 2020 mendatang. Atas kegagalan itu, tentu membuat luka para suporter maupun pecinta PSMS.

Termasuk satu Penggila PSMS, Wahyudinata Simangunsong. Lelaki yang juga pernah menjabat sebagai Ketua SMeCK Hooligan ini sangat kecewa dengan kegagalan PSMS.

Apalagi ia sudah memprediksi sejak awal musim PSMS akan gagal. Mulai dari persiapan saja ia nilai sudah tidak bagus. Kemudian yang menjadi titik kegagalan PSMS tersebut ada pada Manajemennya.

"Kegagalan PSMS ini memang sudah kita prediksi dari awal. Dari persiapan teknis itu sudah tidak bagus. Di mana akarnya di sini tentu manajemen. Yang berdampak lah pada tim. Gak mungkin manajemen bagus, teknis nya tidak bagus. Kalau manajemen bagus, tentu teknis PSMS juga akan bagus," katanya, Minggu (24/11/2019).

Sebagai penggila PSMS, Nata nengatakan ternyata titik kegagalan memang pada manajemennya. Masyarakat seakan tidak percaya kepada manajemen membangun tim Ayam Kinantan sejak awal musim. Terbukti, PSMS hanya bisa gigit jari mengejar target ke Liga 1 musim ini

"Setelah kami coba telusuri kenapa PSMS ini gagal, soal Manajemen. Kenapa manajemen? Karena masyarakat sudah distrust dengan manajemen, baik secara personal maupun tidak. Kegagalan yang lalu-lalu berulang dia dengan pola yang sama," bebernya.

"Sekarang sudah zaman modern, zaman milenial. Sangat disayangkan saat ini sudah zaman milenial, sepak bolanya sudah terukur, malah manajemen sekarang seperti zaman batu. Tidak punya konsep," tambahnya.

Dalam hal ini, Nata menyebut konsep yang harus dibangun ke depannya, tentu terbuka terhadap publik. Kemudian, gara-gara pengurus tim-tim Liga 1 yang berkecimpung yakni anak-anak milenial yang juga paham sepakbola industri.

"Konsep dalam hal ini artinya yang pasti harus terbuka dulu sama orang, sama publik. Kami sebagai pecinta PSMS yang mau memberikan masukan dan konsep saja semacam ada pagar di situ. Ketika ada dialog yang dibuat, setidaknya ada yang didengarkan oleh pengurus PSMS," ungkapnya.

"Kemudian yang info yang terbaru di Liga 1, orang-orang yang mengurus bola yang paham dan berbicara industri. Berbicara sepak bola industri ini kan di zaman milenial ini. Harusnya yang tua-tua ini hanya mendukung dan suporting dananya. Cocoknya mereka berdiri sebagai komisaris. Biar yang muda-muda ini bekerja membangun sepak bola modern," tambahnya lagi.

Meski sudah berbicara sepak bola modern, Nata juga tak mau menghilangkan sejarah PSMS. Dengan kata lain PSMS ini tak terlepas dari sejarah yang membangunnya menjadi lebih besar.

"Walau sudah berbicara modern, tetap jangan tinggalkan sejarah. PSMS ini terbentuk dari enam klub sampai 40 klub, jangan sampai ditinggalin. Ada yang bilang itu simbol saja 40 klub, ya tidak juga, mereka juga harus dibina," pungkasnya.

(lam/tribun-medan.com)

Penulis: Ilham Fazrir Harahap
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved