Breaking News:

Guru Inspiratif

Suarni Sinaga, Mengajar Sambil Berjualan Es Lilin di Sekolah Demi Biaya Kuliah 3 Anak

Selain menjadi seorang guru kelas, Suarni Sinaga berjualan es lilin di sekolah tempatnya mengajar.

Penulis: Indra Gunawan | Editor: Liston Damanik
Tribun Medan/Indra Gunawan
Suarni Sinaga, guru SD Negeri 101950, Desa Lidah Tanah, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdangbedagai. 

TRIBUN-MEDAN.com - Suarni Sinaga, guru SD Negeri 101950 Desa Lidah Tanah, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdangbedagai berasal dari keluarga pendidik,

Ia menjadi guru karena dulunya ayahnya juga seorang guru. 

Meski berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), namun disadari gaji yang didapat belumlah bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Maka dari itu selain menjadi seorang guru kelas ia berjualan es di sekolah tempatnya mengajar. Pekerjaan itu sudah ia lakoni semenjak tahun 2000.

"Kalau enggak ada sampingan bagaimana mau menguliahkan anak? Anak saya empat dan ada tiga orang yang sarjana. Yang satu lagi memang tidak mau kuliah. Uang kuliah didapat dari hasil jual es lah di sekolah,"kata Suarni Senin, (25/11/2019).

Ia mengaku ide untuk berjualan es datang dari guru sebelumnya. Tahun 2000, ada rekannya sesama guru yang sudah puluhan tahun berjualan es di sekolah memasuki masa pensiun. Karena jualan yang didagangkan diminati para siswa, ia pun mengambil alih posisi untuk berjualan di sekolah.

"Banyak yang mau berjualan menggantikan guru yang pensiun itu. Tapi saya bilang sama kawan-kawan guru, biar saya sajalah yang jualan. Anakku mau sekolah dan kuliah jadi perlu banyak biaya. Alhamdulillah kawan-kawan mengerti dan mendukung saya jualan. Ya, walaupun yang dijual hanya es lilin, alhamdulillah uangnya bisa untuk biaya ongkos anak sekolah dan kuliah di Medan," kata Suarni.

Ia menyebut selain es lilin, ia menjual buah jeruk, semangka, tebu dan bengkoang. Jeruk dijual dengan memakai somboy sementara semangka, tebu dan bengkoang dijual dengan dipotong-potong. Dagangan itu dijual dengan dimasukkan di dalam termos es dan diletakkan di depan pintu kelas.

"Pernah pengawas guru datang ke sekolah. Ditanya ini dagangan siapa. Saya jawab saja, dagangan saya. Saya bilang anak saya banyak butuh biaya karena mau sekolah dan kuliah. Ya alasan seperti itu dimaklumi karena memang aktivitas jualan meskipun di depan pintu kelas tidak pernah mengganggu aktivitas mengajar," kata Suarni.

Meski suaminya sebagai seorang karyawan di perusahaan swasta namun Suarni menyebut gaji yang didapat masih terasa sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi saat itu belum ada yang namanya sertifikasi guru.

Suarni sudah dari tahun 1987 menjadi seorang guru di Lidah Tanah. Sejak 1 Januari 2019 lalu ia pun resmi pensiun sebagai guru. Ia berhenti berjualan sebagai pedagang es di sekolahnya setelah anaknya selesai kuliah semua pada tahun 2017. Disebut demi menggapai pendidikan anaknya yang sarjana ia mengaku ikhlas melakukan semua itu.

"Alhamdulillah juga saya sempat menikmati sertifikasi beberapa tahun. Disitulah agak lumayannya jadi seorang guru ini. Kalau yang honor memang ya kasihanlah," katanya.

Sebagai lulusan PGSD,  Suarni Sinaga merasa anaknya harus mengenyam pendidikan yang lebih tinggi darinya.

Ia pun bekerja giat untuk pendidikan anaknya. Suarni terbiasa bangun pukul 4 pagi untuk menyiapkan dagangannya.

"Saya enggak mau kalau karena jualan pekerjaan sebagai guru jadi terhambat. Saya enggak mau kalau terlambat ke sekolah. Kita harus memberikan contoh yang baik kepada murid," katanya. (dra/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved