Erna Guru Mengaji yang Sebatangkara, Bergantung Air Hujan untuk Memasak

Erna (83), warga Gang Jawa Kelurahan Lalang Kecamatan Medan Sunggal, hidup sebatang kara selama belasan tahun, tanpa sanak saudara.

TRIBUN-MEDAN.com - 'Wallazīna yu`minụna bimā unzila ilaika wa mā unzila ming qablik, wa bil-ākhirati hum yụqinụn..', dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.

Demikianlah penggalan ayat Al-Baqarah yang dibacakan Erna di bilik rumahnya.

Erna (83), warga Gang Jawa, Kelurahan Lalang, Kecamatan Medan Sunggal, hidup sebatang kara selama belasan tahun, tanpa sanak famili, saudara dan anak-anaknya.

Sambil berjalan jongkok, ia mengembalikan Alquran ke raknya. Di dalam rumah berukuran 3 x 3 meter, janda dua anak itu, menghabiskan waktunya.

"Saya biasanya mengajar ngaji anak-anak, ada yang iqra' dan Alquran," kata Erna, Jumat (29/11/2019).

Sepeninggal suaminya, Erna hidup sendiri. Ia tak mengetahui, di mana kedua anaknya saat ini.

Ia menuturkan, satu-satunya mahluk hidup yang menemaninya di rumah adalah seekor kucing.

"Saya kadang memberi makan kucing, tapi sering bersemut ini," katanya.

Erna saat ini mengatakan, karena kondisi yang sudah tak memiliki tenaga lagi, dirinya sudah tak mengajar lagi. Ia bergantung pada belaskasihan para tetangga sehari-harinya.

"Alhamdulillah ada yang peduli, yang berikan saya beras, di situlah saya makan. Kalau sudah tinggal sedikit, saya masak bubur dan puasa saja," katanya.

Bila kondisi tak ada makanan, Erna berusaha berpuasa tiap Senin dan Kamis.

"Alhamdulillah, saya kuat. Malah kalau saya tak puasa, saya sakit," jelasnya.

Erna juga mengatakan, terkadang uang yang didapatnya dari orang-orang, hilang begitu saja.

"Saya sudah tidak ingat lagi, uang saya letakkan saya lupa," jelasnya.

Guna keperluan memasak, Erna tak memiliki sumber air bersih. Ia bergantung pada air hujan.

"Saya menampung air hujan, airnya bersih kok. Dulu ada sumur, sekarang tak ada lagi," ungkapnya.

Erna bersyukur, beberapa waktu lalu ada orang baik yang memperbaiki rumahnya. Namun, setelah sekian lama, atap rumahnya telah bocor, karena diambil orang yang tak dikenal.

"Kata tetanggaku, seng di atas rumahku ini ada yang ambil, saya tak tahu," ucapnya.

Sehari-hari, wanita lanjut usia berdarah Jawa ini memasak menggunakan kayu bakar.

"Aku tak menggunakan kompor, kalau aku memasak air memakai kayu bakar. Anak-anak di luar itu aku suruh membelah kayu," jelasnya.

Ironis, Erna sama sekali tak memiliki kartu jaminan sosial. Ia mengaku kerap membayar sendiri, bila penyakitnya kambuh di rumah sakit.

"Allah itu tidak tidur. Allah selalu ada, terkadang saya berdoa agar ada bantuan bila aku sakit,alhamdulillah orang datang membantu," jelasnya.

Sementara itu, sang tetangga Martina Tanjung mengatakan, nenek Erna telah tinggal puluhan tahun. Martina mengatakan, terkadang ia menyempatkan untuk memberikan sedikit makanan kepada Erna.

"Kadang saya berteriak dari rumah saya, nek, udah makan apa belum? Lagi puasa katanya," ujar Martina.

Martina mengungkapkan, beberapa waktu lalu, Nenek Erna mengeluhkan skit yang dideritanya.

"Kami bersawa wraga lain membawanya ke rumah sakit, di sana membayar tidak gratis," jelasnya.

Di lain pihak, aktivis kemanusiaan yang juga Ketua Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera menjelaskan, dirinya telah melaporkan kondisi Erna ke Dinas Sosial.

"Saya meminta Nenek Erna untuk didata, agar masuk ke database penerima bantuan minggu lalu. Mereka (Dinsos) mengatakan, nek Erna akan didata tahun depan alias 2020," pungkasnya. (gov/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved