Peringati Hari AIDS Sedunia, Konselor HIV RS USU Ceritakan Pengalaman Tangani ODHA

Ns. Walter, M.Kep menghimbau kepada masyarakat agar jangan pernah memperpendek harapan hidup pasien Orang Dengan HIV AIDS (ODHA).

Peringati Hari AIDS Sedunia, Konselor HIV RS USU Ceritakan Pengalaman Tangani ODHA
TRIBUN MEDAN/GITA TARIGAN
Konselor HIV Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (RS USU), Ns. Walter, M.Kep saat diwawancarai di ruang kerjanya. 

TRIBUN-MEDAN.com - Memperingati hari AIDS sedunia, Konselor HIV Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (RS USU), Ns. Walter, M.Kep menghimbau kepada masyarakat agar jangan pernah memperpendek harapan hidup pasien Orang Dengan HIV AIDS (ODHA).

Ia mengatakan sudah selayaknya masyarakat Indonesia terkhusus masyarakat Sumut melek dengan pengetahuan seputar Virus HIV AIDS. mendiskriminasi ODHA katanya merupakan perilaku yang menandakan seseorang belum mengerti benar dengan virus tersebut.

"Jangan dibuat seolah-olah semua ODHA itu mantan kriminil, sebab penularan bukan hanya karena perilaku seks yang tidak sehat, tapi bisa juga dari transfusi darah, dimana darah itu terkontaminasi HIV di masa jendela, bisa juga Ibu ke anak, pengguna suntik tato dan narkoba dengan jarum yang tidak steril, dan lainnya," katanya.

Ia menjelaskan bahwa virus tidak dapat ditularkan melalui kontak fisik seperti pelukan, bersalaman, minum dan makan bersama, menggunakan alat mandi, toilet bersama bahkan satu rumah bersama tidak akan menularkan, sehingga masyarakat tidak perlu takut atau bahkan mengucilkan ODHA.

Pasien ODHA katanya harus dibimbing seumur hidup, sebab harus selamanya mengikuti pengobatan dan tidak bisa berhenti mengonsumsi obat Antiretroviral (ARV).

Hal tersebut tentunya membutuhkan dukungan dari keluarga, hal paling penting katanya siapapun tidak bisa memprediksi umur pasien ODHA.

"Hanya tuhan yang tau, teman saya saja yang berstatus ODHA tahun 2012 sampai sekarang masih ada kok. Tetapi ikut aturan, artinya ARV tidak boleh berhenti, bahkan lewat jam saja nggak boleh. Dan pola hidup harus sehat," katanya.

Ia juga tidak menyarankan penggunaan obat tradisional yang tidak dianjurkan dokter.

Meski kondisi sudah membaik melalui ARV, Walter menyarankan agar jangan berhenti mengonsumsi obat karena dapat membahayakan.

"Nanti bisa-bisa obat pertama resisten dan kita harus cari obat lain," katanya.

Sejak 2002 berkecimpung sebagai konselor HIV, Walter menjumpai berbagai kasus unik.

"Bagi kita semua pasien itu unik, artinya pemahaman mereka terjadap HIV itu minim. Terutama keluarga ada aja yang mengucilkan bahkan diusir dari rumah. Tapi setelah kita edukasi mereka menyesali. Ada juga pasien kita yang sewaktu datang berdiri saja udah enggak kuat. Tapi ketika ikut aturan kita udah oke, bekerja malah. Ada juga pasien yang kabur, putus obat dan lainnya," katanya

Walter menghimbau kepada masyarakat agar menambah pengetahuan seputar virus HIV sehingga tidak adanya diskriminasi terjadi.

"Sangat berharap masyarakat bisa paham HIV dan mereka juga enggak ketakutan dengan pasien. Tidak perlu dikucilkan atau sampai dibuang dari keluarga, mengenai usia tidak bisa diprediksi. Hanya Tuhan yang tau," katanya.

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved