Pembunuh dan Pemutilasi ASN Kemenag Dituntut Hukuman Mati, JPU Sebut tak Ada Hal yang Meringankan

Pembunuh dan Pemutilasi ASN Kemenag Dituntut Hukuman Mati, JPU Sebut tak Ada Hal yang Meringankan

Pembunuh dan Pemutilasi ASN Kemenag Dituntut Hukuman Mati, JPU Sebut tak Ada Hal yang Meringankan
ist/KOMPAS.COM/FADLAN MUKHTAR ZAIN
Pembunuh dan Pemutilasi ASN Kemenag Dituntut Hukuman Mati, JPU Sebut tak Ada Hal yang Meringankan. Kolase ASN Kemenag Komsatun Wachidah (51) yang ditewas dibunuh dan jasadnya dimutilasi Deni Priyanto (37). 

Pembunuh dan Pemutilasi ASN Kemenag Dituntut Hukuman Mati, JPU Sebut tak Ada Hal yang Meringankan  

Terdakwa Deni Priyanto (37), pembunuh dan pemutilasi selingkuhannya, Komsatun Wachidah (51), ASN Kemenag Bandung, dituntut hukuman mati, dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (3/12/2019).

Terdakwa Deni Priyanto (37),  dituntut hukuman mati karena melanggar tiga pasal sekaligus yakni, Pasal 340 KUHP, Pasal 181 KUHP dan Pasal 362 KUHP.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Banyumas Antonius dalam persidangan mengatakan, terdakwa terbukti secara sah melakukan tindak pidana pembunuhan dengan direncanakan terlebih dahulu.

Terdakwa juga menyembunyikan dan menghilangkan barang bukti dengan cara memutilasi dan membakar bagian tubuh korban.

Terdakwa juga mengambil sejumlah barang milik korban.

JPU Antonius membacakan tuntutan mengatakan, setelah memperhatikan sidang, tidak ada alasan pembenar perbuatan yang dilakukan terdakwa.

"Dengan memperhatikan sidang tidak ada alasan pembenar. Yang memberatkan, perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat, terdakwa berbelit dalam persidangan dan perbuatan terdakwa sudah direncanakan," kata Antonius.

Selain itu, lanjut Antonius, terdakwa pernah menjalani hukuman penjara selama delapan bulan di Rumah Tahanan (Rutan) Salemba dengan kasus pencurian dengan pemberatan pada tahun 2008 silam.

Deni saat ini juga masih dalam masa pembebasan bersyarat hingga 2020 mendatang.

Halaman
1234
Editor: Tariden Turnip
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved