Rumah Singgah Peduli Kanker di Simalungun Perkenalkan Teknologi Arang Terpadu dan Bambu

Obat herbal ini telah dikombinasikan ke dalam sajian yang lebih simpel seperti, dalam bentuk kemasan teh celup, asap cair, dan kapsul.

Rumah Singgah Peduli Kanker di Simalungun Perkenalkan Teknologi Arang Terpadu dan Bambu
Tribun Medan/Tommy Simatupang
Profesor Gustan Pari (tengah) Peneliti Utama Puslitbang Hasil Hutan memperkenalkan hasil temuan obat herbal untuk membunuh sel kanker dari bahan dasar arang bambu di Badan Litbang dan Inovasi Balitbang LHK-Aek Nauli Kabupaten Simalungun, Jumat (6/12/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Profesor Gustan Pari, Peneliti Utama Puslitbang Hasil Hutan, memperkenalkan hasil temuan obat herbal untuk membunuh sel kanker dari bahan dasar arang bambu. 

"Penelitian arang itu sudah 33 tahun semenjak saya masuk ke Litbang tahun 1986," ujarnya usai peresmian Rumah Singgah Peduli Kanker di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Badan Litbang dan Inovasi Balitbang LHK-Aek Nauli Kabupaten Simalungun, Jumat (6/12/2019).

Profesor Gustan menjelaskan teknologi arang terpadu dan bambu dapat membunuh sel kanker dalam tubuh. 

Ia mengatakan obat herbal ini telah dikombinasikan ke dalam sajian yang lebih simpel seperti, dalam bentuk kemasan teh celup, asap cair, dan kapsul. Lalu, ada juga karbon bambu yang disematkan ke dalam rompi.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan KLHK Dwi Sudharto,  menjelaskan hasil penelitian ini bekerja sama dengan Edwar Technologi.

Obat herbal membunuh sel kanker ini akan segera dipasarkan untuk umum di Balitbang LHK-Aek Nauli. Setiap pengunjung dapat memeriksa sel kanker dalam tubuhnya di Rumah Singgah Peduli Kanker. Para pengunjung juga dapat mencoba atau pun membeli arang bambu yang sudah dikemas kedalam berbagai jenis.

Kata Dwi, pengunjung juga dapat memeriksa apakah ada sel kanker dalam tubuh di rumah singgah itu.

"Pengunjung bisa melihat apakah kanker ada aktif atau tidak. Ini arang bambu sudah kita coba dalam beberapa bulan terakhir. Justru kita harapkan sambil wisata cek kesehatan. Pakai rompi Minum kopi arang sambil terapi,"katanya.

Dwi menjelaskan tumbuhan bambu memiliki kelebihan yakni cepat tumbuh, daur tebang pendek 3-5 tahun, beragam manfaat terutama untuk kesehatan, kandungan holoselulosa tinggi, erat dengan budaya Indonesia, kemampuan menyerap N dan CO2 tinggi sehingga berperan penting dalam mengurangi perubahan iklim. Bentuk perakarannya yang khas membuat bambu dapat menahan air dan erosi, sehingga sangat baik untuk rehabilitasi hutan dan lahan terutama di sekitar Danau Toba.

"Pengembangan rumah singgah ini dilatarbelakangi dengan kondisi bahwa penyakit kanker merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia yang utama. Tingkat kematian akibat kanker di Indonesia mencapai rata-rata 50 persen dengan beban biaya pengobatan kanker terus meningkat,"ujarnya.

Suhemi dari Edwar Teknologi mengungkapkan produk dalam bentuk rompi sudah dipasarkan ke empat negara. Ia mengatakan empat negara ini memanfaatkan penemuan ini untuk diberikan kepada pasien kanker.

Namun, ia menyayangkan banyak masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri dengan biaya mahal. Padahal, obat yang dianjurkan merupakan beesumber dari Indonesia.

"Di indonesia kita menjual rompi karbon bambu ini dengan harga berkisar Rp 20 juta satu set. Namun, ketika membeli di luar negeri harganya bisa empat kali lipat,"katanya.

Seperti diketahui, peresmian Rumah Singgah Peduli Kanker ini ditandai dengan pengguntingan pita oleh Sekretaris Balitbang Inovasi Silvana Ratina di Badan Litbang dan Inovasi Balitbang LHK-Aek Nauli.(tmy/tribun-medan.com).

Penulis: Tommy Simatupang
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved