Jelang FDT di Parapat, Warga Sesalkan Fasum Tak Diperbaiki
Festival Danau Toba (FDT) 2019 dilaksanakan di Danau Toba Parapat Kabupaten Simalungun mulai Senin (9/12/2019) hingga Kamis (12/12/2019).
Penulis: Tommy Simatupang |
TRIBUN-MEDAN.com - Festival Danau Toba (FDT) 2019 dilaksanakan di Danau Toba Parapat Kabupaten Simalungun mulai Senin (9/12/2019) hingga Kamis (12/12/2019). Program ini dilaksanakan sepenuhnya oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Roy Sirait seorang warga Parapat menilai belum ada peningkatan pengunjung. Ia memang melihat sudah banyak stand dan spanduk FDT yang berdiri.
Namun, ia menyayangkan perayaan sekelas FDT yang masuk dalam kalender pariwisata Sumut tidak memerhatikan fasilitas pendukung. Pria yang keseharian menjadi barista di warung Tutu Kopi Tigaraja mencontohkan seperti open stage (pusat kegiatan) tidak ada perbaikan.
"Kita bisa lihat seperti open stage yang biasa digunakan untuk kegiatan menarik wisatawan terlihat rusak. Langit-langit gedung sudah rusak dari dulu. Seperti ini yang kita takutkan ini hanya formalitas saja tapi tidak ada meningkatkan pengunjung,"katanya, Sabtu (7/12/2019).
Roy juga mengatakan kehadiran FDT di daerah Kawasan Danau Toba (KDT) sering melupakan kontribusi warga. Banyak warga tidak mendapatkan dampak dari kegiatan itu. Ia memprediksi kegiatan ini tidak memberikan pemasukan yang signifikan kepada masyarakat.
"Yang selalu kita perjuangkan dampak ke masyarakat dari program wisata ini. Kita tidak merasakan dampak yang signifikan,"katanya.
"Penunjukan Parapat dan open stage sebagai tuan rumah FDT 2019 sangat diapresiasi masyarakat Parapat. Tapi sebaiknya sebelum hari H, fasum (fasilitas umum) di open stage pagoda termasuk panggung utama dan tribun penonton diperbaiki terlebih dahulu oleh pemerintah. Karena wajah sebuah kota dilihat dari fasilitas umum,"katanya.
Roy mengatakan perayaan FDT tabg dilaksanakan di bulan Desember dan di hari kerja akan mengurangi kedatangan wisatawan.
"Tapi masyarakat sangat menyayangkan waktu pelaksanaan FDT 2019 yg diadakan bulan desember dan di hari kerja sehingga masyarakat pesimis akan banyak pengunjung yg akan menghadiri FDT 2019 di Parapat,"katanya.
Amatan tribun-medan.com di open stage Parapat tampam rusak termakan usia. Tidak ada pemugaran agar memperindah tampilan. Pada tribun open stage juga tampak tidak ada perbaikan. Pada langit-langit banyak yang sudah jebol.
Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Simalungun Resman Saragih menilai open stage masih layak digunakan. Saat disinggung tidak ada pemugaran untuk menunjang program FDT, Resman mempersilakan ke panitia. Ia mengatakan semua fasilitas umum apa adanya.
"Itu kan panitia porsinya. Kalau anggaran kita gak ada. Apa adanya itulah. Kalau mereka mau benahi, ya merekalah itu. Kalau dari kita gak ada. Kebetulan masih kita anggap layak. Kalau mereka anggap tidak layak, ya merekalah itu,"katanya.
Resman mengatakan Pemkab Simalungun sebagai tuan rumah hanya menjadi peserta. Pemkab Simalungun akan berkontribusi menjadi peserta dalam setiap kegiatan. Resman mengatakan sudah mengimbau ke pengusaha hotel untuk tidak melakukan lonjakan harga dalam FDT ini.
Resman juga mengaku untuk membersihkan Danau Toba untuk menyukseskan kegiatan diserahkan ke panitia.
"Kita hanya ada stand. Kalau hotel dari dulu udah kita sampaikan ke pengusaha hotel. Hari biasa pun sudah kita imbau itu pihak hotel. Kami hanya mengikuti festival saja. Peserta saja kita. Kalau itu (Pembersihan Danau Toba) sudah menyangkut semua stakeholder. Saya lihat dirundown ada mereka membersihkan Danau Toba,"katanya.
Sebelumnya pada tahun 2018 di Kabupaten Dairi bisa dinilai merupakan FDT paling buruk. Bahkan, selama FDT 2018 hanya sedikit pengunjung yang hadir. (tmy/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/warga_duduk_open_stage.jpg)