Begini Cara Medan Creator Space dan TTZW Bantu Kota Medan Raih Adipura

Yang paling mengerikan botol kaca bisa sampai 1 juta tahun. Permasalahan kota Medan bukan hanya sampah plastik, tapi sampah secara keseluruhan

Begini Cara Medan Creator Space dan TTZW Bantu Kota Medan Raih Adipura
TRIBUN MEDAN/GITA NADIA PUTRI TARIGAN
Suasana diskusi dan workshop bertajuk Zero Waste Starts From Us di MCS, Jalan Iskandar Muda Nomor 55, Medan Baru, Minggu (8/12/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Peduli isu sampah dan lingkungan di kota Medan, Medan Creators Space (MCS) sebagai wadah kolaborasi anak-anak komunitas Medan, hadirkan diskusi dan workshop bertajuk Zero Waste Starts From Us di MCS, Jalan Iskandar Muda Nomor 55, Medan Baru, Minggu (8/12/2019).

Dalam kegiatan ini, MCS berkolaborasi dengan komunitas Try To Zero Waste Medan (TTZW). Bersama sang eksekutor Nona Khairunisa yang belakangan aktif mengkampanyekan zero waste kota Medan, menampilkan fakta menyedihkan seputar sampah dan keberlangsungan hidup manusia.

"Setiap hari Indonesia produksi 65 juta ton sampah. Lebih dari 3.500 tempat pembuangan akhir (TPA) di dunia menampung sampah industri dan rumah tangga. Tau nggak berapa lama sampah itu terurai? Kantong plastik membutuhkan puluhan tahun, kaos katun 2 sampai 5 bulan, dan kaleng aluminium bisa sampai ratusan tahun," katanya.

Permasalahan yang kerap dihadapi beberapa kota di Indonesia terutama di Medan adalah tidak baiknya sistem pengelolaan sampah seperti pemilahan dan lainnya sehingga tidak jarang sampah berserakan, menumpuk disuatu tempat dan mengganggu kesehatan dan lingkungan.

"Yang paling mengerikan botol kaca bisa sampai 1 juta tahun. Permasalahan kota Medan bukan hanya sampah plastik, tapi sampah secara keseluruhan. Kita bisa baca di beberapa media menyebutkan bahwa Medan hasilkan 2000 ton sampah per hari dan dinas kebersihan sempat mengaku kewalahan karena kurangnya moda pengangkutan," katanya.

Bahkan Kementrian LKH pernah merilis 11 kota terkotor, dan Medan termasuk di dalamnya. Melihat hal tersebut Nona mengatakan pepatah buanglah sampah pada tempatnya tidaklah tepat .

"Yang tepat itu kelola sampah dengan seharusnya. Sebagai bagian kecil dari kota ini apa yang bisa kita lakukan? Tentunya alternatif terbaik yakni Zero Waste," katanya.

Dijelaskannya Zero Waste adalah filosofi yang dijadikan gaya hidup dengan tujuan mencegah sisa konsumsi berakhir di TPA atau lautan. Terdapat lima konsep Zero waste, yakni Refuse, Reduce, Reuse, recycle dan rot. 

"Coba konsisten jangan gunakan plastik sekali pakai, kalau punya kantong plastik di rumah pakai berkali-kali nggak perlu ganti yang baru, buat tabung kompos sederhana untuk sampah organik, pakaian yang tidak disukai ubah jadi barang lain seperti tas, atau ikut kampanye tukar pakaian untuk kurangi sampah tekstil," katanya.

Ia mengajak para peserta agar belajar secara perlahan menggunakan produk ramah lingkungan. Seperti lerak, sedotan bambu, membawa tempat minum, serta membawa tas praktis kemana pun. 

"Sekilas memang seperti tidak berdampak, tapi perlu diketahui kalau dengan zero waste, masing-masing dari kita akan mengurangi kurang lebih 0,7 kg sampah perhari. Bayangkan kalau sudah seminggi, setahun? Pasti sangat bermanfaat, mulai lah daei diri sendiri, secara perlahan," katanya.

Selain itu, Nona juga mengajarkan tehnik sederhana memilah sampah di rumah dengan 5 kriteria, yakni Sampah organik, sampah plastik dan kaca, sampah B3, Sampah kertas dan residu.

"Medan Creators Space mengajak TTZW Medan berkolaborasi memberikan edukasi pada masyarakat, untuk membantu Kota Medan meraih adipura lewat belajar zero waste. Di acara ini kita juga menyajikan sajian minim sampah plastik," katanya.

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved