Oknum TNI Mangkir dalam Sidang Gudang Gas Oplosan Beromzet Rp 50 Juta per Bulan

Saksi oknum TNI bernama Idris yang disebut-sebut pemilik gudang pengoplosan, berserta dua saksi ahli, tidak hadir.

Tribun Medan / Dedy Kurniawan
Empat terdakwa perkara gudang gas oplosan memberi kesaksian dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Binjai, Kamis (12/12/2019). 

Oknum TNI Mangkir dalam Sidang Gudang Gas Oplosan Beromset Rp 50 Juta per Bulan

Laporan Wartawan Tribun Medan / Dedy Kurniawan

TRIBUN-MEDAN.com, BINJAI - Empat terdakwa perkara gudang pengoplosan gas beromzet Rp 50 juta per bulan, kembali didudukkan di bangku pesakitan.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Binjai menggelar sidang di Ruang Cakra, Kamis (12/12/2019).

Keempat terdakwa yakni Agustono (40) warga Dusun Bandar Meriah Desa Namu Ukur Utara, Sei Bingai; Suhendri (27), Ari Sudana (30) warga Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Sari, Medan dan Mahera (31) warga Desa Kwala Serapuh, Tanjung Pura, Langkat.

Dalam sidang yang diketuai Hakim Fauzul Hamdi didampingi David Simare-mare dan Tri Syahriawani, saksi oknum TNI bernama Idris yang disebut-sebut pemilik gudang pengoplosan, berserta dua saksi ahli, tidak hadir.

Alhasil, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Linda Sembiring membacakan keterangan saksi ahli minyak dan gas, Rahmadian serta saksi ahli perlindungan konsumen, Efrahim.

"Baik yang mulia, keempat terdakwa dinyatakan melakukan tindak pidana penyalahgunaan gas bersubsidi/niaga bahan bakar minyak dan melakukan pengolahan, penyimpanan dan niaga gas bumi tanpa izin usaha. Dan memperdagangkan barang yang tidak sesuai dengan berat bersih dan jumlah hitungan sebagaimana dinyatakan dalam label atau etiket barang," kata Linda membacakan keterangan saksi ahli, Rahmadian.

"Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, perbuatan pelaku usaha yang memproduksi dan memperdagangkan tabung gas dengan berat bersih kurang dari berat bersih yang sebenarnya adalah merupakan tindak pidana di bidang perlindungan konsumen yang mengelabui atau menyesatkan konsumen dari sisi kebenaran, ukuran, takaran dan timbangan yang sebenarnya," lanjut Linda membacakan keterangan saksi ahli Efrahim.

BREAKING NEWS: Pensiunan Polisi Dirampok di Deliserdang saat Jadi Sopir Mobil Rental, Pelaku Dihajar

Fakta Baru Kematian Hakim Jamaluddin, Sebelum Meninggal Sempat Datangi Rumah Perempuan Ini

Selanjutnya, Majelis Hakim menanyakan kepada terdakwa Agustono alasan Idris tidak hadir dan keberadaannya. Namun, Agustono tak bisa memberi jawaban.

"Saya memang kenal Idris, tapi saya gak tahu alasannya gak hadir, kami gak ada hubungan keluarga. Ya, oknum Pomdam (tugasnya)," beber Agustono.

Agustono mengklaim gudang dan usaha pengoplosan gas itu merupakan miliknya. Sedangkan Idris disebutnya hanya pemilik lahan.

"Jumlah pekerja ada sembilan. Lahan milik Idris. Usaha punya saya," kata Agustono terkesan pasang badan.

Namun, majelis hakim tak percaya begitu saja atas keterangan Agustono.

Halaman
12
Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Juang Naibaho
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved