Hanura Kembali Bergejolak, Wiranto Minta Oesman Sapta Mundur dari Ketum Hanura

Menurut Wiranto, munas berlangsung disertai sejumlah kejanggalan. Salah satunya tidak mengundang Presiden Joko Widodo dan dirinya sebagai pendiri

Hanura Kembali Bergejolak, Wiranto Minta Oesman Sapta Mundur dari Ketum Hanura
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Dalam foto yang diambil pada 22 Februari 2006 tampak Presiden Joko Widodo (batik) di sela-sela berfoto bersama Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang (depan ketiga kanan), Ketua Dewan Pembina Partai Hanura Wiranto (depan kelima kanan), serta pengurus partai lainnya dalam acara Pengukuhan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Partai Hanura Periode 2016-2020 di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat. 

Hanura Kembali Bergejolak, Wiranto Minta Oesman Sapta Mundur dari Ketum Hanura

TRIBUN-MEDAN.com - Konflik di Partai Hanura kembali memanas. Pendiri partai, salah satunya Wiranto, mendesak Oesman Sapta Odang untuk mundur dari jabatan ketua umum.

Namun, Oesman menolak desakan itu. Ia justru mengklaim legitimasi musyawarah nasional sebagai pengambil keputusan tertinggi partai.

Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Hanura Wiranto dalam jumpa pers bertajuk ”Penyelamatan Partai Hanura”, di Hotel Atlet Century Park, Jakarta, Rabu (18/12/2019), menyatakan tidak mau mengakui hasil Musyawarah Nasional (Munas) III Hanura yang diselenggarakan di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa-Rabu (17-18/12/2019).

Dalam munas tersebut, Ketua Umum Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) dipilih kembali sebagai ketua umum secara aklamasi.

Menurut Wiranto, munas berlangsung disertai sejumlah kejanggalan. Salah satunya tidak mengundang Presiden Joko Widodo dan dirinya sebagai pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Hanura.

”Saya tidak apa-apa tidak diundang, tetapi ini keluar dari kelaziman sebuah partai politik,” kata Wiranto yang didampingi dua pendiri Hanura lainnya, Subagyo HS dan Chairudddin Ismail.

KOMPAS/KURNIA YUNITA RAHAYU

Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Hanura Wiranto (tengah) dalam jumpa pers bertajuk ”Penyelamatan Partai Hanura”, di Hotel Atlet Century Park, Jakarta, Rabu (18/12/2019).

Keterpilihan Oesman juga dinilai tak sesuai dengan kesepakatan saat ia dipilih sebagai ketua umum pada 2016.

Sebelum menggantikan Wiranto yang diangkat sebagai Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Oesman terlebih dulu diminta menandatangani pakta integritas yang berisi enam syarat, di antaranya memimpin Hanura sampai 2020 dan menjamin penambahan kursi Hanura di DPR.

Jika ada syarat yang tak dipenuhi, Oesman bersedia mengundurkan diri sebagai ketua umum. Pakta integritas itu ditandatangani Oesman dan dua saksi, yaitu Subagyo dan Chairuddin.

Halaman
1234
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved