Sambut Hari Ibu, Medan Creator Gelar Workshop dan Bincang Kesehatan Cegah Stunting

Memperingati hari ibu, Medan Creator Space (MRS) sebagai wadah kreatifitas bagi anak komunitas di Medan, adakan workshop dan bincang kesehatan

Sambut Hari Ibu, Medan Creator Gelar Workshop dan Bincang Kesehatan Cegah Stunting
TRIBUN MEDAN/GITA TARIGAN
Sasana workshop dan bincang kesehatan bertajuk cegah Stunting : Ibu Sehat, keluarga bahagia di Medan Creator Space Jalan Iskandar Muda Nomor 55, Babura, Kecamatan Medan Baru, Minggu (22/12/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Memperingati hari ibu, Medan Creator Space (MRS) sebagai wadah kreatifitas bagi anak komunitas di Medan, adakan workshop dan bincang kesehatan bertajuk cegah Stunting : Ibu Sehat, keluarga bahagia di Medan Creator Space Jalan Iskandar Muda Nomor 55, Babura, Kecamatan Medan Baru, Minggu (22/12/2019).

Dibawakan langsung oleh Ketua Majelis Etik, Himpunan Psikologi Indonesia Sumatera Utara (Himpsi Sumut), Rahmadani H.S menjelaskan bahwa keluarga memiliki banyak fungsi yakni Biologis, Pendidikan, Spiritual, Psikologis, Kesejahteraan ekonomi dan fungsi sosial.

"Banyak keluarga yang mengalami keretakan karena ketidaktahuan kita bagaimana membangun keluarga. Menikah itu kebutuhan bersama, bukan hanya soal materi tapi juga kesiapan untuk bertanggungjawab seumur hidup. Kalau mau punya keluarga yang sehat dan sejahtera, seharusnya dimulai dari pranikah," katanya.

Rahmadani menjelaskan bahwa kecerdasan anak itu tergantung ibunya. Bukan hanya cerdas secara intelektual namun juga secara emosional dan spiritual, sehingga kedua orangtua harus mampu berkolaborasi menjalankan ke-enam fungsi tersebut.

"Pertama pernikahan itu memang bagian dari fungsi biologis, pemenuhan dorongan dan kebutuhan seksual. Berikutnya adalah pendidikan, kesalahan orangtua kerap menjadikan sekolah sebagai mesin laundry. Sudah masukin anak sekolah, bayar mahal, keluarnya kinclong. Perilakunya harus baik, orangnya harus cerdas, berakhlak dan lainnya," katanya.

Ia menegaskan perilaku orangtua yang menyerahkan sepenuhnya tumbuh kembang anak pada sekolah bukanlah hal yang tepat.

Sebab kemajuan seorang anak tidak bisa hanya ditimbang dari kemampuan akademis semata, namun juga kemampuan sosialnya yang termasuk di dalamnya adalah mental.

Mental dijelaskannya merupakan kesatuan dari akal, jiwa, hati (qalbu), dan etika (moral) serta tingkah laku. Moral juga merupakan hal-hal yang berada dalam diri, terkait dengan psikis atau kejiwaan yang dapat mendorong terjadinya tingkah laku dan membentuk kepribadian.

"Karena yang utama orangtualah yang menjadi guru, bukan guru yang di sekolah. Sebab guru mengelola puluhan anak, guru gak akan mampu mengontrol semua anak. Untuk kebutuhan akademis intelektualnya bisa kita serahkan ke guru, kalau yang lainnya kita harus belajar. Tapi di zaman sekarang banyak sekali orangtua yang menitipkan anak di home schooling," katanya.

Selain itu, gizi buruk juga berdampak pada psikologis, seperti IQ yang rendah mempengaruhi kognitif dan motorik anak, sehingga kemampuan dan prestasi belajarnya bisa menurun. Kurangnya Vitamin, mineral dan nutrisi lainnya juga dapat membuat anak tidak konsentrasi, lemas, lesu, dan tidak dapat bergerak aktif.

"Sedangkan kurang nutrisi seperti protein, zat besi, yodium, dan lainnya bisa membuat IQ lebih rendah 10 sampai 15 poin. Selain itu, gizi juga berpengaruh pada gangguan kesehatan mental dan emosional. Seperti kurang zat besi berakibat pada gangguan hiperaktif, kebiasaan telat makan atau makanan yang banyak mengandung gula bisa menyebabkan anak depresi," katanya.

Selain itu, kekurangan gizi pada anak juga bisa menyebabkan masalah emosi pada anak, sehingga Ia tumbuh menjadi pribadi yang rewel, pemarah, sensitif, hingga menarik diri.

Tidak ketinggalan stunting pendek karena kurangnya asupan gizi juga berdampak pada menurunnya kepercayaan diri anak.

"Sehingga anak bisa kesulitan mencari teman, dibuli hingga tumbuh menjadi anak pendendam kemudian akan tumbuh menjadi pembuli. Sehingga kalau ingin membangun rumah tangga, bukan hanya soal menyatukan dua orang, namun juga harus panjang dan memiliki program yang jelas. Dan program tersebut bukan hanya dimulai saat sudah menikah, tapi sebelum menikah," katanya.

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved