TRIBUN-WIKI: Mengenal Sejarah Kota Tebing Tinggi

Makalah itulah yang kemudian dijadikan sebagai Peraturan Daerah (Perda) dalam penetapan awal berdirinya Kota Tebing Tinggi, yakni 1 Juli 1917.

Tayang:
Editor: Juang Naibaho
Tribun-Medan.com/Aqmarul Akhyar
Gapura Selamat Datang Kota Tebing Tinggi yang terletak di Kecamatan Rambutan, Kota Tebing Tinggi. 

 TRIBUN WIKI: Mengenal Sejarah Kota Tebing Tinggi

Laporan Reporter Tribun Medan/Aqmarul Akhyar

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com - Kota Tebing Tinggi bukan hanya dikenal sebagai kota pendidikan di Sumut, tapi juga berjuluk kota lemang.

Ya, kota itu merupakan penghasil lemang yang lezat dan maknyus.

Di balik beragam sebutan itu, Kota Tebing Tinggi ternyata memiliki sejarah panjang terkait sejarah terbentuknya menjadi sebuah kota pada masa kerajaan dan kolonial Belanda.

Sejarah mencatat, Kota Tebing Tinggi yang merupakan daratan yang terhampar di sepanjang pinggiran Sungai Padang dan Sungai Bahilang, mulai dihuni sebagai tempat tinggal pada tahun 1864.

Data hunian itu merupakan pernyataan resmi yang dibuat oleh sejumlah tokoh masyarakat Kota Tebing Tinggi pada tahun 1987.

Pernyataan ini terdapat dalam makalah berjudul “Kertas Kerja Mengenai Pokok-Pokok Pikiran Sekitar Hari Penetapan Berdirinya Kotamadya Daerah Tingkat II Tebing Tinggi.”

Makalah itulah yang kemudian dijadikan sebagai Peraturan Daerah (Perda) dalam penetapan awal berdirinya Kota Tebing Tinggi, yakni 1 Juli 1917.

Di dalam makalah itu, dipaparkan pula bagaimana perkembangan daerah ini setelah dihuni tahun 1864.

Pemaparan itu berdasarkan penuturan lisan yang turun temurun, atau sering disebut dengan sastra lisan.

Disebutkan bahwa seorang bangsawan dari wilayah Bandar Simalungun (sekarang masuk wilayah Pagurawan) bernama Datuk Bandar Kajum bersama pengikut setianya menyusuri Sungai Padang untuk mencari hunian baru.

Hingga kemudian hari mereka mendarat dan bermukim di sekitar aliran sungai besar itu.

Pemukiman itu bernama Kampung Tanjung Marulak – sekarang Kelurahan Tanjung Marulak, Kecamatan Rambutan.

Namun kehidupan bangsawan dari Bandar Simalungun ini tidaklah tenteram. Sebab, dia terus diburu oleh tentara kerajaan Raya.

Datuk Bandar Kajum itu pun pindah dan akhirnya bermukim di suatu lokasi yang persis berada di bibir Sungai Padang.

Permukiman itu merupakan sebuah tebing yang tinggi. Dia dan para pengikutnya mendirikan hunian di atas tebing yang tinggi itu sembari memasang pagar menggunakan kayu yang kokoh.

Permukiman Datuk Bandar Kajum inilah yang sekarang berlokasi di Kelurahan Tebing Tinggi Lama, Kecamatan Padang Hilir.

Kini kawasan itu menjadi lokasi pemakaman keturunan Datuk Bandar Kajum, yang diyakini sebagai cikal bakal nama Tebing Tinggi.

Pada masa itu, tentara dari Kerajaan Raya suatu kali kembali menyerang Kampung Tebing Tinggi untuk menangkap Datuk Bandar Kajum.

Tetapi, saat itu Datuk Bandar Kajum yang bergelar Datuk Punggawa tidak berada di tempat.

Sedangkan keluarga bersama pengikutnya melarikan diri ke perkebunan rambutan yang saat itu di bawah kekuasaan Kolonial Belanda.

Lalu dibantu oleh Belanda, Datuk Bandar Kajum pun mengadakan serangan balasan terhadap tentara Kerajaan Raya. Dalam peperangan itu, dia bersama pengikutnya berhasil mengalahkan lawannya.

Setelah suasana kembali aman, untuk tetap menjaga ketentraman daerah itu, Datuk Bandar Kajum pun mengadakan perjanjian dengan Belanda.

Daerah kekuasaan Datuk Bandar Kajum ini dilebur menjadi wilayah taklukan Kerajaan Deli.

Penandatanganan perjanjian itu, dilakukan Datuk Bandar Kajum dan Belanda di sebuah sampan bernama “Sagur” di sekitar muara Sungai Bahilang.

Sebelum dinamai Tebing Tinggi, dalam catatan sejarah, nama daerah hunian dan tempat tinggal di sepanjang aliran Sungai Padang dan Sungai Bahilang itu sempat dinamai Kerajaan Padang.

Kerajaan Padang merupakan daerah otonom di bawah Kerajaan Deli.

Peninggalan Kerajaan Padang antara lain, Istana Negeri Padang di Bandar Utama, dan Masjid Raya Nur Addin, di Jalan MT Haryono.

Saat ini, penduduk Kota Tebing Tinggi pada umumnya bekerja di sektor perdagangan, angkutan, jasa, industri, pertanian, konstruksi, pertambangan, galian, keuangan, pegawai negeri dan ABRI.

Adapun jumlah angkatan kerja pada tahun 2000 mencapai 1.139 orang terdiri dari 348 laki-laki dan 791 perempuan.

Berikut Kecamatan di Kota Tebing Tinggi

Padang Hilir

Padang Hulu

Rambutan

Tebing Tinggi Kota

Bajenis

(Sumber: Zikri Sikumbang (warga Tebing Tinggi); Tedy Firman Supardi (Peneliti Muda Tebing Tinggi; Dinas Komunikasi dan Informatika Tebing Tinggi)

(Cr22/Tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved