Penjual Merkuri di Madina Ditangkap, Zat yang Diduga Penyebab Beberapa Kasus Bayi Cacat

Dari kedua tersangka disita barang bukti dua botol cairan merkuri/HG merek Gold 99,99 persen dengan berat masing-masing satu kilogram.

Penjual Merkuri di Madina Ditangkap, Zat yang Diduga Penyebab Beberapa Kasus Bayi Cacat
Int
Air raksa atau merkuri. 

MEDAN,TRIBUN-Tim Penyidik Subdit IV Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumut menangkap dua orang penjual merkuri atau air raksa ilegal di Kabupaten Mandailing Natal (Madina).

Kedua tersangka yakni OJS (43) dan IF (52). Keduanya warga Desa Huta Bargot, Kecamatan Huta Bargot, Kabupaten Madina.

Menurut Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sumut, Kombes Rony Samtana, pengungkapan ini berawal dari informasi yang didapat penyidik pada Senin (2/12) silam.

Ada warga yang melapor jika kedua tersangka menjual merkuri ilegal. Menindaklanjuti informasi itu, polisi pun menyusun strategi untuk menjebak kedua tersangka dengan cara menyaru sebagai pembeli.

"Kami kemudian melakukan transaksi di Desa Panyabungan Julu Pasar Lama, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Madina. Begitu barang bukti diserahkan, keduanya pun kami tangkap," kata Rony, Kamis (26/12).

Dari kedua tersangka disita barang bukti dua botol cairan merkuri/HG merek Gold 99,99 persen dengan berat masing-masing satu kilogram.

Petaka Tambang Emas di Madina, Bayi Lahir Usus di Luar, Bermata Satu hingga Tanpa Batok Kepala

Pakai Krim Wajah Berbahan Merkuri, Wanita ini Koma 3 Bulan di Rumah Sakit

Kemudian, 25 botol kosong berlabel merkuri Gold 99,99 persen yang diduga sebagai wadah merkuri, 28 botol kosong yang tidak berlabel gold 99,99 persen yang diduga sebagai wadah merkuri, 50 buah tutup botol berwarna hitam.

Selanjutnya, adapula dua wadah bekas merkuri warna hitam dengan berat masing-masing 34,5 Kg. Lalu, ada juga satu logam perak sebesar 842 gram yang merupakan hasil penjualan merkuri, dan dua unit handphone.

Rony mengatakan, kedua tersangka ini dijerat dengan Pasal 53 ayat (1) huruf b dengan ancaman hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 3 miliar sesuai dengan Pasal 120 ayat (1) UU RI Nomor 3 tahun 2014 tentang pendistribusian.

"Mereka juga melanggar Pasal 24 ayat (1) dengan hukuman penjara paling lama 4 tahun atau denda paling banyak Rp 10 miliar sesuai dengan Pasal 106 UU Negara RI Nomor 7 Tahun 2014 tentang perdagangan Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1e KUHPidana," ujar Rony.

Halaman
12
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved