Punya Koleksi 3000 Buku, Literacy Coffee Kian Eksis Usung Kedai Kopi Nuansa Lokal

Cafe dengan dekorasi unik dipadu dengan wifi yang kencang menjadi tren yang dicari para generasi muda saat ini.

Punya Koleksi 3000 Buku, Literacy Coffee Kian Eksis Usung Kedai Kopi Nuansa Lokal
TRIBUN MEDAN/KARTIKA DEWI
Koleksi buku di Literacy Coffee yang berfokus mengangkat isu lokalitas 

TRIBUN-MEDAN.com, Medan - Cafe dengan dekorasi unik dipadu dengan wifi yang kencang menjadi tren yang dicari para generasi muda saat ini.

Berbeda dengan tren saat ini, Literacy Coffee yang terletak di Jalan Jati II No.1 Medan ini memberi paduan nuansa Literasi, Kopi dan Diskusi yang mulai jarang dilakukan di cafe modern.

Literacy Coffee yang terletak di belakang kampus Institut Teknologi Medan (ITM), ketika pengunjung masuk ke halaman akan disuguhkan dengan mural-mural para tokoh, diantaranya Tan Malaka dan juga karya dari para pelukis yang ingin menorehkan karyanya di Literacy Coffee ini, Senin (13/1/2020).

Pendiri Literacy Coffee, John Fawer Siahaan, mengatakan bahwa ada makna dibalik nama Literacy Coffee yang berdiri sejak 2016 lalu ini.

"Konsepnya literasi. Literasi dan kopi. bagaimana ada perpaduan kopi dan buku. saya punya ratusan koleksi buku terkait sumatera secara khusus. saya berpikir bagaimana buku tersebut dapat diakses publik. Kita buat namanya literasi kopi. Disini semua orang dapat simpan pinjam buku," ujar John.

Perpustakaan yang dipadu dengan warung kopi ini dibangun atas dasar pemikiran Jhon Fawer Siahaan, alumni Pendidikan Sejarah Unimed yang memiliki keresahan akan minimnya koleksi buku-buku mengenai lokalitas khususnya Sumatera di perguruan tinggi ataupun perpustakaan yang ada di kota Medan.

"Kalau taman baca sangat tergolong sedikit, sangat terbatas. Aku bisa klaim kalau Literacy Coffee masih lebih banyak referensi untuk kampus mengenai kelokalan," ungkap John.

Koleksi buku di Literacy Coffee saat ini sudah mencapai 3000 buku mengenai lokalitas. John menuturkan bahwa pengunjung dapat meminjam buku dengan syarat berlaku

"Kalau untuk meminjam buku dia daftar dulu jadi member dengan donasi dua buku, awalnya kita buat gratis namun malah dilama-lamain, kita buat biaya administrasi," tutur John.

Sri Suci Batubara, Mahasiswa Universitas Negeri Medan menuturkan bahwa adanya Literacy Coffee ini sebagai bentuk wujud para peneliti untuk mencari bahan literasi yang kian susah dicari saat ini.

"Bagus dengan konsepnya, selain itu juga dengan adanya perpustakaan nuansa warung kopi ini mampu membangkitkan anak muda untuk giat membaca buku dan mempermudah mencari referensi yang sulit dicari," ujar Suci. (cr13)

Penulis: Kartika Sari
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved