Petani Kecil Tidak Ikut Kebanjiran Untung dari Beralihnya India ke Sawit Indonesia

CPO petani di Sumatera Utara saat ini katanya tidak punya sertifikasi sehingga menjadi kendala dan harganya sangat rendah.

Petani Kecil Tidak Ikut Kebanjiran Untung dari Beralihnya India ke Sawit Indonesia
Sawit 

TRIBUN-MEDAN.com - Pengamat ekonomi Wahyu Ario Pratomo menilai pemboikotan yang dilakukan oleh India terhadap Malaysia dalam hal pembelian minyak mentah sawit atau crude palm oil (CPO) akan menguntungkan Indonesia.

"Sudah pasti Indonesia dan Malaysia itu bersaing untuk mengekspor CPO kepada negara-negara di dunia. Tentunya ketika India memutuskan untuk tidak lagi mengimpor dari Malaysia, itu menguntungkan bagi Indonesia," tuturnya, Selasa (14/1/2020).

Wahyu melanjutkan, tentunya ini menjadi sebuah kabar gembira karena selama ini ekspor di Sumatera Utara sangat ditopang oleh sawit. Hingga November 2019, ekspor Sumut diungkapkannya terus menurun dibandingkan periode yang sama dari 2018 lalu.

"Artinya karena ekonomi global yang mengalami perlambatan, juga ditambah dengan kawasan Teluk yangmemanas juga memberikan dampak yang tidak baik bagi dunia terutama Indonesia," katanya.

Ekspor Sumut mengandalkan CPO yang peranannya sangat dominan hampir 40 persen. Artinya jika ada pengalihan permintaan sawit dari Malaysia ke Indonesia khususnya Sumatera Utara, hal ini akan memberikan angin segar.

"Terutama bagi produsen CPO di Sumatera Utara. Turunnya pasti kepada pekebun sawit. Yang kita harapkan sebenarnya adalah hal ini apakah memberikan manfaat bagi petani, bukan ke perusahaan," ujarnya.

CPO petani di Sumatera Utara saat ini katanya tidak punya sertifikasi sehingga menjadi kendala dan harganya sangat rendah. Untuk itu, dampak pemboikotan ini menurut Wahyu tidak kepada para petani biasa tetapi perusaan perkebunan besar.

"Pengimpor CPO tentu akan mensyaratkan sertifikasi," terangnya.

Mengenai pemboikotan ini, India yang bergantung tinggi pada CPO di satu sisi akan menguntungkan Indonesia. Namun, Wahyu berpendapat Malaysia akan menyusun strategi terutama berkaitan dengan negara persemakmuran.

"Mereka punya semacam perlakukan khusus. Bagi kita, kita harus terus melihat apa yang dilakukan oleh Malaysia. Jangan sampai pembelian kembali lagi ke Malaysia. Kita juga harus melakukan strategi yang lebih baik," ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Nanda Rizka Nasution
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved