Resmi Boikot Sawit Malaysia, India Mengalihkan Pembeliannya ke Indonesia

Imbasnya, para importir India mengalihkan pembeliannya ke Indonesia, meski dengan harga lebih mahal sekalipun.

Resmi Boikot Sawit Malaysia, India Mengalihkan Pembeliannya ke Indonesia
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Foto ilustrasi panen kelapa sawit. 

Tercatat, India saat ini merupakan importir minyak sawit terbesar di dunia.

Industri dalam negerinya menyerap lebih dari sembilan juta ton per tahun CPO yang didatangkan dari Indonesia dan Malaysia.

Seorang personil pasukan keamanan India berjaga ketika petugas menggeledah bagasi dan kendaraan komuter di ruas jalan di Nagrota, negara bagian Jammu dan Kasmir, Jumat (2/8/2019).
Seorang personil pasukan keamanan India berjaga ketika petugas menggeledah bagasi dan kendaraan komuter di ruas jalan di Nagrota, negara bagian Jammu dan Kasmir, Jumat (2/8/2019). (AFP / RAKESH BAKSHI)
Mahatir menolak

Sebelumnya, dikutip dari Kontan, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menegaskan, ia tidak akan menarik kembali kecamannya atas tindakan New Delhi di Kashmir, meski asosiasi minyak nabati India menyerukan boikot minyak kelapa sawit (CPO) Malaysia.

Kebuntuan bisa memperburuk apa yang Mahathir gambarkan sebagai perang dagang antara Malaysia, produsen sekaligus pengekspor CPO terbesar kedua di dunia, dan India, pembeli terbesar komoditas asal negeri jiran tersebut sepanjang tahun ini.

"Kami mengutarakan pendapat kami, dan kami tidak menarik atau mengubahnya," tegas Mahathir kepada wartawan di Kuala Lumpur, Selasa (22/10/2019) lalu, seperti dikutip Reuters.

"Apa yang kami katakan adalah kita semua harus mematuhi resolusi (PBB). Jika tidak, apa gunanya PBB?," ujar dia.

Solvent Extractors Association of India (SEAI), segera meminta anggotanya untuk berhenti membeli CPO Malaysia, setelah Mahathir mengatakan di Majelis Umum PBB, bahwa India sudah "menyerbu dan menduduki" Kashmir, wilayah mayoritas Muslim yang disengketakan juga diklaim Pakistan.

Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad di Konferensi Masa Depan Asia ke-24 di Tokyo, Jepang, Senin (11/6/2018). (AFP/Kazuhiro Nogi)
Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad di Konferensi Masa Depan Asia ke-24 di Tokyo, Jepang, Senin (11/6/2018). (AFP/Kazuhiro Nogi) ()

Pemerintahan Perdana Menteri India Narendra Modi mencabut otonomi khusus Kashmir wilayah India pada 5 Agustus lalu, dan menyebutnya sebagai masalah internal serta mengkritik negara-negara yang menentang keputusan tersebut.

Dewan Keamanan PBB mengadopsi beberapa resolusi pada 1948, dan 1950-an tentang perselisihan antara India dan Pakistan mengenai Kashmir, termasuk yang menyatakan, plebisit harus diadakan untuk menentukan masa depan wilayah tersebut.

Mahathir mengatakan, Malaysia akan mempelajari dampak boikot SEAI yang berbasis di Mumbai dan mencari cara untuk mengatasi masalah ini.

Halaman
123
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved