TRIBUN-WIKI-MEDAN: Eksistensi Agama Baha’i di Kota Medan

Di Kota Medan juga telah terdata sejumlah warga yang menganut agama Bahá'í.

TRIBUN-WIKI-MEDAN: Eksistensi Agama Baha’i di Kota Medan
Tribun-Medan.com/Aqmarul Akhyar
Irham Hadi Purnama, warga Medan yang menganut agama Baha’i 

Hal ini dilakukan pada hari ke 19 karena umat Baha’i mempunyai perhitungan kalender tersendiri. Kalender umat Bah’ai disebut Badi’ merupakan suatu sistem kalender surya dibagi atas 19 bulan, masing masing terdiri dari 19 hari, dalam satu tahun ada 361 hari ditambah suatu periode tambahan yaitu hari –hari Intercalary (4 padata tahun biasa dan 5 pada tahun kabisat).

Perayaan hari kelahiran Sang Bab dan Baha'u'llah oleh penganut agama Baha'i di Medan.
Perayaan hari kelahiran Sang Bab dan Baha'u'llah oleh penganut agama Baha'i di Medan. (Tribun Medan/Alija Magribi)

Rumah Ibadah Baha’i

Rumah ibadah Baha’i mencerminkan tujuan dasar agama Baha’i yang mendorong kesatuan umat manusia dan mencerminkan keyakinan akan keesaan Tuhan . Rumah Ibadah ini dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai “tempat terbit pujian kepada Tuhan”. Rumah ibadah Baha’i merupakan sumbangan masyarakat Baha’i bagi seluruh umat manusia termasuk semua pemeluk agama yang berbeda-beda.

“Semoga umat manusia dapat menemukan satu tempat untuk berkumpul dan semoga proklamasi kesatuan umat manusia memancar dari istana suci-Nya yang terbuka.....” —‘Abdu’l-Bahá

Rumah ibadah tersebut merupakan tempat untuk berdoa dan bermeditasi bagi individu dan masyarakat, tidak dibatasi hanya untuk umat Baha’i saja. Bah’a’ulláh mengajarkan bahwa doa dan sembahyang merupakan percakapan antara manusia dan penciptanya yang bersifat rohani dan tidak harus dilaksanakan di rumah ibadah khusus. Saat ini, rumah ibadah Baha’i sudah ada di sebagian negara di dunia. Namun, di Indonesia belum ada rumah ibadah Baha’i.

Rumah Ibadah Baha’i dibangun dengan dana yang hanya berasal dari sumbangan orang-orang Bahá’í dari seluruh dunia. Rumah ibadah Baha’i bebas untuk memiliki rancangannya sendiri, namun semua harus mengikuti pola arsitektur yang bertemakan ketunggalan, yakni harus mempunyai sembilan sisi dan sebuah kubah di tengahnya. Para pengunjung dapat memasuki rumah ibadah dari sisi mana saja, namun mereka disatukan di bawah satu kubah.

Acara ibadah terdiri dari pembacaan Tulisan Suci Baha’i dan Tulisan Suci dari berbagai agama, dan tidak ada khotbah, ritual, atau pemimpin doa. Tiap tahun, jutaan orang dari berbagai agama di dunia mengunjungi rumah-rumah ibadah Baha’i untuk berdoa dan bermeditasi.

Bah’a’ulláh bersabda bahwa rumah ibadah Baha’i nanti akan berfungsi sebagai titik pusat kehidupan rohani masyarakat. Di sekelilingnya akan terdapat lembaga-lembaga yang antara lain bergerak dalam bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, sosial-kemanusiaan lainnya seperti rumah sakit dan rumah jompo, dan administrasi masyarakat Baha’i. Sehingga dengan demikian, rumah ibadah Baha;i akan mewujudkan konsep perpaduan “ibadah dan pengabdian” sesuai dengan ajaran Bah’a’ulláh. (*)

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Juang Naibaho
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved