Breaking News:

TRIBUN-WIKI-MEDAN: Eksistensi Agama Baha’i di Kota Medan

Di Kota Medan juga telah terdata sejumlah warga yang menganut agama Bahá'í.

Penulis: Aqmarul Akhyar | Editor: Juang Naibaho
Tribun-Medan.com/Aqmarul Akhyar
Irham Hadi Purnama, warga Medan yang menganut agama Baha’i 

Laporan Reporter Tribun Medan/Aqmarul Akhyar

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com - Agama Bahá'í yang lahir di Persia (sekarang Iran) pada tahun 1863, masih eksis hingga saat ini di sejumlah negara, termasuk di Indonesia.

Di Kota Medan juga telah terdata sejumlah warga yang menganut agama Bahá'í.

Berdasarkan data Kanwil Kementerian Agama Sumatera Utara, jumlah pengikut Agama Baha'i mencapai 100 orang pada tahun 2016. Hal itu dijelaskan oleh Kabag Humas Abdul Azhim, Selasa (14/1/2019).

Seorang penganut Agama Baha’i di Kota Medan adalah Irham Hadi Purnama, warga Perumahan Torganda Griya, Blok A Nomor 38, Asam Kumbang, Kecamatan Medan .

Ia mengatakan, pengikut Agama Baha’i lebih kurang 100 orang di Kota Medan.

Menurut dia, penganut Agama Baha’i tersebar di setiap provinsi yang ada di Indonesia. Namun, jumlahnya tak banyak, berkisar 100 sampai 200 orang.

Sepengetahuan Irham, Agama Baha’i masuk ke Indonesia sekitar tahun 1965. Namun, ia mewanti-wanti bahwa data itu belum tentu benar.

“Tetapi sudah ada yang meneliti terkait sejarah masuknya Agama Baha’i ke Indonesia dan Kota Medan. Penelitian itu dilakukan seorang mahasiswa di salah satu universitas negeri yang ada di Kota Medan,” kata dia.

Bercerita tentang Agama Baha’i, mungkin saja masih asing di telinga sebagian masyarakat Kota Medan.

Dalam catatan sejarah yang diceritakan oleh Irham, Agama Baha’i merupakan agama yang lahir di Persia (Iran). Agama ini kemudian tersebar luas ke negara-negara lainnya di dunia.

Menurut sepengetahuan Irham, awal mulanya Agama Baha’i masuk ke Indonesia karena datangnya orang Iran yang menganut Agama Baha’i untuk bekerja sebagai tenaga medis atau sebagai dokter. Lambat laun, Agama Baha’i pun berkembang di Indonesia.

Ia juga mengatakan banyak generasi penganut Agama Bahai yang datang ke Indonesia, ada yang ke Jawa, Bali, Denpasar dan ini terjadi dari kurang lebih sebelum tahun 1965.

Sepanjang sepengetahuan Irham, mereka datang karena di Indonesia lagi membutuhkan tenaga dokter atau medis. Lalu, tersebarlah Agama Baha’i.

Selanjutnya, inilah sejarah ringkas Agama Baha’i dalam buku Agama Baha’i .

Agama Baha’i adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte dari agama lain. Pembawa Wahyu Agama Baha’i adalah Bah’a’ulláh, yang mengumumkan bahwa tujuan agama-Nya adalah untuk mewujudkan transformasi rohani dalam kehidupan manusia dan memperbarui lembaga-lembaga masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip keesaan Tuhan, kesatuan agama, dan persatuan seluruh umat manusia.

Umat Baha’i berkeyakinan bahwa agama harus menjadi sumber perdamaian dan keselarasan, baik dalam keluarga, masyarakat, bangsa maupun dunia. Umat Baha’i telah dikenal sebagai sahabat bagi para penganut semua agama, karena melaksanakan keyakinan ini secara aktif. Ajaran-ajaran Agama Bahá’í antara lain adalah keyakinan pada keesaan Tuhan, kebebasan beragama, kesatuan dalam keanekaragaman, serta menjalani kehidupan yang murni dan suci.

Selain itu, Agama Baha’i juga mengajarkan peningkatan kehidupan rohani, ekonomi, dan sosial- budaya, mewajibkan pendidikan bagi semua anak, menunjukkan kesetiaan pada pemerintah, serta menggunakan musyawarah sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Ajaran-ajaran tersebut ditujukan untuk kesatuan umat manusia demi terciptanya perdamaian dunia.

Bah’a’ulláh (yang berarti Kemuliaan Tuhan) adalah Pembawa Wahyu Agama Baha’i. Pada tahun 1863, Ia mengumumkan misi-Nya untuk menciptakan kesatuan umat manusia serta mewujudkan keselarasan di antara agama-agama. Dalam perjalanan-Nya di sebagian besar kerajaan Turki, Bah’a’ulláh banyak menulis wahyu yang diterima-Nya dan menjelaskan secara luas tentang keesaan Tuhan, kesatuan agama serta kesatuan umat manusia.

Walaupun Bah’a’ulláh dijatuhi hukuman karena ajaran agama-Nya, sebagaimana juga dialami oleh para Utusan Tuhan yang lainnya, namun Bahá’u’lláh terus mengumumkan bahwa umat manusia kini berada pada ambang pintu zaman baru, zaman kedewasaan.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sekarang terbuka kemungkinan bagi setiap orang untuk melihat seluruh bumi dengan semua bangsanya yang beranekaragam, dalam satu perspektif.

Bah’a’ulláh mengajarkan bahwa semua agama berasal dari Tuhan dan mereka saling mengisi serta melengkapi. Semua Utusan Tuhan mengajarkan keesaan Tuhan dan mewujudkan cinta Tuhan dalam kalbu-kalbu para hamba-Nya. Mereka telah mendidik umat manusia secara berkesinambungan ke tingkat-tingkat yang lebih tinggi dalam perkembangan jasmani dan rohani.

Bah’a’ulláh bersabda bahwa kini saatnya telah tiba bagi setiap bangsa di dunia untuk menjadi anggota dari satu keluarga besar umat manusia. Selanjutnya, Ia juga mengajarkan bahwa saatnya telah tiba untuk mewujudkan kesatuan umat manusia serta mendirikan suatu masyarakat sedunia.

Dalam Surat wasiat-Nya, Bah’a’ulláh menunjuk putra sulung-Nya, ‘Abdu’l-Bah’a, sebagai suri Teladan Agama Baha’í, Penafsir yang sah atas Tulisan Suci-Nya, serta Pemimpin Agama Baha’í setelah Bah’a’ulláh wafat. Bah’a’ulláh wafat pada tahun 1892 di Bahji yang berada di Tanah Suci.

Pada tahun 1911-1913, ‘Abdu’l-Bah’a melakukan perjalanan ke Mesir, Eropa, dan Amerika. Dia mengumumkan misi Bah’a’ulláh mengenai perdamaian dan keadilan sosial kepada umat semua agama, berbagai organisasi pendukung perdamaian, para pengajar di universitas-universitas, para wartawan, pejabat pemerintah, serta khalayak umum lainnya.

‘Abdu’l-Bah’a, yang wafat pada tahun 1921, dalam surat wasiatnya menunjuk cucu tertuanya, Shoghi Effendi Rabbani, sebagai Wali Agama Bahá’í dan Penafsir ajaran agama ini. Hingga wafatnya pada tahun 1957, Shoghi Effendi menerjemahkan banyak Tulisan Suci Bahá’u’lláh dan ‘Abdu’l-Bah’a ke dalam Bahasa Inggris dan menjelaskan makna dari Tulisan-tulisan suci. Dia juga membantu didirikannya lembaga-lembaga masyarakat Bahá’í yang berdasarkan pada ajaran Baha’í di seluruh penjuru dunia.

‘Abdu’l-Bahá dan Shoghi Effendi dengan setia telah menuntun Agama Bahá’í sesuai dengan ajaran-ajaran Bah’a’ulláh dan memelihara kesatuan umat Baha’í sehingga tidak akan ada sekte ataupun aliran di dalam Agama Baha’í. Setelah Shoghi Effendi, sesuai dengan amanat dari Bah’a’ulláh, umat Baha’í dibimbing oleh lembaga internasional yang bernama Balai Keadilan Sedunia.

Tentang Umat Bah’ai di Kota Medan

Menurut cerita dari Irham, umat Baha’i di Kota Medan ada sekitar kurang lebih 100 orang. Kemudian, setiap bulan sekali pada hari ke 19 Umat Baha’i Kota Medan, melakukan pertemuan. Dalam pertemuan ini, mereka membahas tentang Agama yang dianutnya. Selain itu, di dalam pertemuan ini umat Agama Baha’i bermusyawarah terkait sosial.

“Perayaan 19 hari, Jadi disitulah bermusyawarah. Jadi apabila kami membayangkan sebuah kampung, disetiap pertemuan dan musyawarah hari ke 19 ini lah kami memikirkan siapa yang tak bisa sekolah, bagaimana jembatan itu, terus kami melakukan iuran untuk membantu semama manusia dan lebih memikirkan kemanusiaan atau kegiatan sosial,” ujarnya.

Hal ini dilakukan pada hari ke 19 karena umat Baha’i mempunyai perhitungan kalender tersendiri. Kalender umat Bah’ai disebut Badi’ merupakan suatu sistem kalender surya dibagi atas 19 bulan, masing masing terdiri dari 19 hari, dalam satu tahun ada 361 hari ditambah suatu periode tambahan yaitu hari –hari Intercalary (4 padata tahun biasa dan 5 pada tahun kabisat).

Perayaan hari kelahiran Sang Bab dan Baha'u'llah oleh penganut agama Baha'i di Medan.
Perayaan hari kelahiran Sang Bab dan Baha'u'llah oleh penganut agama Baha'i di Medan. (Tribun Medan/Alija Magribi)

Rumah Ibadah Baha’i

Rumah ibadah Baha’i mencerminkan tujuan dasar agama Baha’i yang mendorong kesatuan umat manusia dan mencerminkan keyakinan akan keesaan Tuhan . Rumah Ibadah ini dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai “tempat terbit pujian kepada Tuhan”. Rumah ibadah Baha’i merupakan sumbangan masyarakat Baha’i bagi seluruh umat manusia termasuk semua pemeluk agama yang berbeda-beda.

“Semoga umat manusia dapat menemukan satu tempat untuk berkumpul dan semoga proklamasi kesatuan umat manusia memancar dari istana suci-Nya yang terbuka.....” —‘Abdu’l-Bahá

Rumah ibadah tersebut merupakan tempat untuk berdoa dan bermeditasi bagi individu dan masyarakat, tidak dibatasi hanya untuk umat Baha’i saja. Bah’a’ulláh mengajarkan bahwa doa dan sembahyang merupakan percakapan antara manusia dan penciptanya yang bersifat rohani dan tidak harus dilaksanakan di rumah ibadah khusus. Saat ini, rumah ibadah Baha’i sudah ada di sebagian negara di dunia. Namun, di Indonesia belum ada rumah ibadah Baha’i.

Rumah Ibadah Baha’i dibangun dengan dana yang hanya berasal dari sumbangan orang-orang Bahá’í dari seluruh dunia. Rumah ibadah Baha’i bebas untuk memiliki rancangannya sendiri, namun semua harus mengikuti pola arsitektur yang bertemakan ketunggalan, yakni harus mempunyai sembilan sisi dan sebuah kubah di tengahnya. Para pengunjung dapat memasuki rumah ibadah dari sisi mana saja, namun mereka disatukan di bawah satu kubah.

Acara ibadah terdiri dari pembacaan Tulisan Suci Baha’i dan Tulisan Suci dari berbagai agama, dan tidak ada khotbah, ritual, atau pemimpin doa. Tiap tahun, jutaan orang dari berbagai agama di dunia mengunjungi rumah-rumah ibadah Baha’i untuk berdoa dan bermeditasi.

Bah’a’ulláh bersabda bahwa rumah ibadah Baha’i nanti akan berfungsi sebagai titik pusat kehidupan rohani masyarakat. Di sekelilingnya akan terdapat lembaga-lembaga yang antara lain bergerak dalam bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, sosial-kemanusiaan lainnya seperti rumah sakit dan rumah jompo, dan administrasi masyarakat Baha’i. Sehingga dengan demikian, rumah ibadah Baha;i akan mewujudkan konsep perpaduan “ibadah dan pengabdian” sesuai dengan ajaran Bah’a’ulláh. (*)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved