Dalangi Pembunuhan Sopir Taksi Online, Akbar Dituntut Hukuman Mati

Akbar berharap tidak ada orang lain yang mengikuti aksinya. ”Cukuplah saya, jangan ada lagi pelaku yang lain. Saya terima tuntutan ini,” katanya.

Dalangi Pembunuhan Sopir Taksi Online, Akbar Dituntut Hukuman Mati
KOMPAS/RHAMA PURNA JATI
Akbar Akbar Al Fariz (34), aktor utama pembunuhan pengemudi taksi daring di Palembang, Sumatera Selatan, menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Palembang, Kamis (16/1/2020). 

Untuk alasan pertama, pemesanan dibatalkan karena calon korban pertama membawa iring-iringan. Adapun untuk calon korban kedua juga dibatalkan karena merupakan tetangga dari keponakan Akbar.

”Dua calon korban ini dibatalkan karena terlalu berisiko aksinya akan lebih mudah diketahui,” ujar Purnama.

Akhirnya, pilihan jatuh pada korban ketiga, yakni Sofyan. Selain lebih aman, tubuh korban juga tergolong kecil.

Menurut jaksa, fakta ini membuktikan pelaku memiliki kesempatan untuk membatalkan niatnya, tetapi hal itu tidak dilakukan.

Hal lain yang memberatkan, pembunuhan tergolong sadis. Korban juga merupakan tulang punggung keluarga dengan satu istri dan empat anak. Tidak ada perdamaian dari pihak keluarga.

Belum lagi, Akbar mengajak FR, seorang anak di bawah umur, untuk melancarkan aksinya tersebut. ”Tidak ada satu pun hal yang meringankan,” ungkap Purnama.

Purnama mengatakan, sidang Akbar merupakan yang terakhir dari sidang semua pelaku karena Akbar baru ditangkap pada 21 Agustus 2019 atau sekitar 10 bulan setelah terungkapnya kasus ini.

Adapun pelaku lain sudah tertangkap lebih dulu dan disidang hingga vonis.

Purnama optimistis, Akbar diganjar dengan hukuman maksimal karena ketiga pelaku lain juga telah dijerat dengan hukuman maksimal. ”Apalagi, Akbar adalah aktor utama dari kejahatan ini,” katanya.

KOMPAS/RHAMA PURNA JATI

Dua terdakwa pembunuh pengemudi taksi daring Sofyan (44), yakni Acundra (dua dari kiri) dan Riduan (kiri), divonis hukuman mati dalam persidangan di Pengadilan Negeri Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (24/4/2019).

Riduan dan Acundra divonis hukuman mati oleh majelis hakim PN Palembang pada 24 April 2019. Adapun FR dihukum 10 tahun penjara, hukuman terberat dalam peradilan anak. Banding yang diajukan Acundra dan Riduan pun ditolak.

Halaman
123
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved