Tribun Wiki

Mengenal Lebih Dekat Djaga Sembiring Depari Sang Maestro Komponis Nasional Asal Karo

Monumen Djaga Sembiring Depari yang terletak di persimpangan antara Jalan Patimura, Jalan Sultan Iskandar Muda dan Jalan Letjen. Djamin Ginting

Mengenal Lebih Dekat Djaga Sembiring Depari Sang Maestro Komponis Nasional Asal Karo
Istimewa
Djaga Sembiring Depari sang maestro komponis nasional 

TRIBUN-MEDAN.com - Monumen Djaga Sembiring Depari yang terletak di persimpangan antara Jalan Patimura, Jalan Sultan Iskandar Muda dan Jalan Letjen. Djamin Ginting, Kota Medan.

Monumen ini dibangun untuk lebih mengenang jasa-jasa Djaga Sembiring Depari, Minggu (19/1/2019).

Karena, Djaga Sembiring Depari merupakan seorang komponis yang tersohor di masanya dan juga merupakan komponis nasional Indonesia asal Karo.

Djaga Depari dilahirkan pada 5 Mei 1922 dari keluarga Ngembar Sembiring Depari dan Siras Br. Karo Sekali, bertempat di desa Seberaya, Karolanden (yang sekarang bernama Kabupaten Karo), Provinsi Sumatera Utara.

Selanjutnya, Djaga Depari merupakan seorang pemusik yang tidak pernah mengecap pendidikan musik formal, tetapi pada era masa mudanya Ia mencintai kesenian atau music serta pandai bermain biola.

Di masa Djaga Depari yang relative muda pada saat itu, Ia juga berbakat dalam mengarang lagu, syair-syair, yang berdasarkan daerah lokal yaitu Tanah Karo. Selain itu lagu-lagu ciptaanya menyentuh dan indah, serta mampu membakar semangat masyarakat Karo, untuk ikut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Hal ini merupakan kekuatan besar dari diri Djaga Depari, sebagai komponis. Kemudian, tokoh pahlawan seperti Djaga Depari ini sangat menarik, caranya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan melakukan perlawanan pada masa kolonial Belanda.

Batu Prasasti Peletakan Batu Pertama Monumen Djaga Sembiring Depari, di persimpangan antara Jalan Patimura, Jalan Sultan Iskandar Muda dan Jalan Letjen. Djamin Ginting, Kota Medan, Minggu (19/1/2020)
Batu Prasasti Peletakan Batu Pertama Monumen Djaga Sembiring Depari, di persimpangan antara Jalan Patimura, Jalan Sultan Iskandar Muda dan Jalan Letjen. Djamin Ginting, Kota Medan, Minggu (19/1/2020) (TRIBUN MEDAN/AQMARUL AKHYAR)

Ia tidak memakai fisik untuk melakukan perlawanan kepada penjajah, seperti pahlawan lainnya.

Melainkan, Ia memakai lagu dengan melalui kata-kata yang memancarkan semangat masyarakat untuk melawan penjajah masa itu.

Kemudian, lagu-lagunya antara lain adalah Erkata Bedil, Sora Mido, Piso Surit, I juma-juma i padang sambo, Pio – pio, USDEK (Undang-undang Dasar 1945 - Sosialisme Indonesia - Demokrasi Terpimpin - Ekonomi Terpimpin - Kepribadian Nasional), Taneh Karo Simalem, Terang Bulan, Sanggar-sanggar, Nangkih Deleng Sibayak, Mejuah-juah, dan lain-lain.

Halaman
123
Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved