Breaking News:

Selalu Merugi dan Telat Bayar Gaji Karyawan, Ini Komentar Dirut RPH Kota Medan

Isa Ansyari mengatakan tidak masalah apabila RPH menjadi Unit Pelayanan Teknis (UPT) Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Medan

Istimewa
Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Medan 

TRIBUN-MEDAN.com - Direktur Utama Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan (Dirut PD RPH) Kota Medan, Ainal Mardiah melalui juru bicara RPH Kota Medan, Isa Ansyari mengatakan tidak masalah apabila RPH menjadi Unit Pelayanan Teknis (UPT) Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Medan namun harus disertai dengan studi kelayakan.

"Bagi direksi RPH nggak ada persoalan apabila menjadi UPT Dinas Pertanian dan Perikanan. Namun harus dipastikan kalau memang layak dan bisa meningkat. Artinya harus dilakukan studi kelayakan dulu lah benar-benar dievaluasi dengan benar, karena Rumah Potong Hewan ini tidak boleh tidak ada kan," katanya.

Meski demikian, Isa membenarkan komentar anggota DPRD Antonius Tumanggor bahwa selama ini RPH mengalami kerugian serta terlambat membayar gaji pegawai.

"Memang terlambat digaji, karena regulasi pemotongan hewannya hanya yang berpotensi dari Babi sebab mencapai angka 142 kemarin. Namun karena ada virus itu, langsung menurun 70%. Sementara yang dari sapi dan kambing hanya rata-rata 17 kambing hanya sekitar 30 sapi. Sekarang ini untuk babi diperkirakan hanya 45 sampai 50 rata-ratanya, sementara dulu bisa 105 sampai 117 per hari," katanya.

Meski demikian katanya pemotongan babi di RTH sangat higienis dan tidak pernah ada virus hog colera sebab babi berasal dari perusahaan, bukan pemeliharaan perorangan.

Ia menegaskan hewan yang dipotong di RPH, baik mau kambing, sapi ataupun babi, dijamin kehigienisannya dengan prinsip ASUH (aman sehat utuh dan higienis)

"Kita sudah menghimbau kepada para pedagang, peternak babi dan hewan lain untuk melakukan pemotongan di RPH. Karena kita melakukan pemeriksaan kesehatan hewan dari sebelum dan sesudah dipotong," katanya.

RPH dan Dinas Pertanian katanya juga sudah beberapa kali melakukan kerjasama untuk melakukan pemeriksaan atau rajia pemotongan hewan, yang masuk ke kota Medan.

"Itu sudah mengalami peningkatan sebenarnya cuman dana kan dari RPH. Operasional,anggaran untuk melakukan rajia itu nggak kemana mencapai 5 sampai sejuta. Dan hitungan nya melalui dana RPH. Kalau peningkatan kemarin itu sebelum kena virus colera ada mencapai 20 persen pendapatan di bulan 8 hingga 9 sekitar empat sampai lima kali rajia," katanya.

Isa mengatakan RPH ini bisa maju apabila dilaksanakan pasar hewan dan penguatan Perda. Ia mengatakan kalau pun dibuat UPT namun tidak ada penguatan di Perda nomor 11 tentang pemotongan hewan, RPH akan tetap sulit berkembang.

Halaman
12
Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved