Pernak-pernik Imlek Mulai Diburu, Angpao dan Lampion Paling Laris

Jelang Tahun Baru Imlek, masyarakat mulai gencar berburu pernak-pernik dan kebutuhan menyambut hari spesial tersebut.

Pernak-pernik Imlek Mulai Diburu, Angpao dan Lampion Paling Laris
Tribun Medan/Septrina Ayu Simanjorang
Masyarakat tengah mencari kebutuhan Imlek di Acai Jaya di Jalan Brigjen Katamso, Senin (20/1/2020). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Jelang Tahun Baru Imlek, masyarakat mulai gencar berburu pernak-pernik dan kebutuhan menyambut hari spesial tersebut.

Misalnya di Acai Jaya yang berlokasi di Jalan Brigjen Katamso nomor 70-72, tampak masyarakat memilih berbagai barang untuk persiapan Imlek.

Di toko ini berbagi hiasan untuk menyambut Tahun Baru Imlek ditampilkan berbagai hiasan imlek, bunga sakura, angpao, dan lain sebagainya. Semua hiasan ini didominasi dengan warna merah.

Pemilik toko Acai Jaya, Aliansyah, mengatakan setiap tahun, angpao dan lampion menjadi barang yang paling dicari konsumen. Hal ini mengingat pengguna angpao biasanya hanya untuk sekali pakai, sama halnya dengan lampion.

"Dalam kepercayaan Tionghoa, setiap menyambut tahun baru Imlek, masyarakat yang merayakan selalu mengganti lampion. Lampion lama tidak lagi dipakai. Hal ini karena lampion dipasang sebagai lambang menyambut hari dan tahun baru juga mengundang rezeki baru," jelasnya, Senin (20/1/2020).

Untuk harga barang di toko ini cukup terjangkau. Mulai dari Rp 1500 untuk gantungan pohon dan angpao. Sedangkan barang yang paling mahal bisa mencapai Rp 1 jutaan untuk lampion elektrik.

"Lampion kita terdiri dari lampion kertas, plastik, hingga elektrik. Kita ada dua jenis lampion elektrik, ada yang menggunakan baterai, ada yang menggunakan listrik. Tapi ada juga lampion yang berukuran kecil harganya Rp 80 ribu per biji. Jadi harganya cukup terjangkau," ungkapnya.

Ia mengatakan setiap tahun ada tren terbaru untuk pernak-pernik Imlek. Perkembangannya juga mengikuti shio di tahun tersebut.

"Seperti tahun ini kan tahun tikus, makanya banyak juga pernak pernik bergambar tikus seperti gantungan hingga boneka tikus. Tapi itu hanya paling 10 persen saja, sisanya kebanyakan sama saja dari tahun ke tahun," ungkapnya. (cr18/tribun-medan.com)

Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Juang Naibaho
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved