Breaking News:

Mengenal Lebih Dekat Pastor Hyginus Silaen, Imam Katolik dan Aktivis Lingkungan Hidup

Pastor Hyginus Silaen, OFM Cap dikenal sebagai Imam Katolik dan sekaligus aktivis Lingkungan Hidup.

TRIBUN MEDAN/MAURITS PARDOSI
Pastor Hyginus Silaen, OFM Cap dalam pemulihan kesehatan. Dia menggunakan tongkat dan menghabiskan jmhari-harinya di kursi roda. Dalam perawatan saat ini, dia dibantu oleh empat orang yang secara bergantian menjaganya. 

MEDAN-TRIBUN.com, Medan - Pastor Hyginus Silaen, OFM Cap dikenal sebagai Imam Katolik dan sekaligus aktivis Lingkungan Hidup.

Salah satu aksinya sebagai aktivis lingkungan hidup adalah berperan aktif dalam aksi penutupan PT. Indo rayon pada tahun 2000.

Saat ditemui di kediamannya di Biara Kapusin Emmaus Helvetia, Medan, Pastor Hyginus Silaen mengisahkan perjuangannya sebagai imam yang terpanggil untuk melestarikan alam.

Imam kelahiran tahun 1952 ini mendapatkan tugas untuk melayani umat Katolik di Balige pada tahun 1999 hingga 2000-an.

Saat dia bertugas di Balige, gejolak penolakan PT. Indorayon di sekitar Balige dan Porsea sudah ada.

Sebagai Imam Katolik, yang memilih jalan hidup seperti Santo Fransiskus Assisi, dia dipanggil menjadi pecinta dan pelestari alam.

Sebagai aksi nyata, dia ikut serta bersama masyarakat turun ke jalan agar PT. Indo rayon segera tutup.

Aksi tersebut berdasarkan pada keresahan masyarakat di sekitar PT yang menyebabkan hutan gundul dan bencana alam pun terjadi.

Dari penuturannya, dia bersama Uskup Pius Datubara, OFM Cap ikut hadir di tengah kerumunan masyarakat untuk menolak operasi PT. Indo rayon, yang kini menjadi Toba Pulp Lestari (TPL).

Mereka berdemo di daerah Sirait Uruk, Porsea. Sebagai bukti bahwa dirinya ikut ambil bagian dan solider terhadap keresahan warga dan umat, dia juga turut hadir dalam dialog interaktif oleh Baku mau di Medan pada tahun 2003.

Awal interaktif tersebut, dia mengambil nas Kitab Suci Perjanjian Lama, "Berbasuhlah dan bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan jahat dari depan mataKu, berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik, usahakan lah keadilan, kendalikanlah orang kejam, belalah hak-hak anak yatim... mari kita berperkara firman Tuhan, sekalipun dosamu merah seperti sirih, akan putih seperti kapur".

Hingga kini, dia masih berharap bahwa semua perusahaan yang merusak alam agar segera bertobat.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved