Wabah Hog Cholera Dilaporkan Mereda, Upaya Isolasi Daerah Belum Dilakukan di Dairi

Lebih dari 13 ribu ekor babi di Kabupaten Dairi tewas akibat serangan virus demam babi diduga African Swine Fever (ASF).

Wabah Hog Cholera Dilaporkan Mereda, Upaya Isolasi Daerah Belum Dilakukan di Dairi
Tribun Medan/Riski Cahyadi
Petugas dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Karo memberi edukasi tentang bahaya virus Hog Cholera dan African Swine Fever atau demam babi Afrika kepada pemilik ternak babi Desa Mulawari, Kecamatan Tigapanah, Kabupetan Karo, Sumatera Utara, Minggu (12/11/2019).TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

TRIBUN-MEDAN.COM, DAIRI - Lebih dari 13 ribu ekor babi di Kabupaten Dairi tewas akibat serangan virus demam babi diduga African Swine Fever (ASF).

Bidang Peternakan pada Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Dairi menyebut, angka 13 ribu tersebut diperoleh berdasarkan laporan peternak.

"Data per 10 Januari 2019, ternak babi mati di Dairi karena terinfeksi virus berjumlah 13.268 ekor. Kami yakin jumlah ini belum real, sebab banyak peternak yang enggak melapor, sehingga angka total sesungguhnya lebih dari situ," kata Kabid Peternakan, Drh Ermawati Berutu, Minggu (2/2/2020).

Erma mengatakan, penyebaran wabah demam babi di Dairi mereda. Hal itu ditandai oleh laporan peternak dan pengamatan petugas di lapangan.

Masyarakat tak khawatir lagi mengonsumsi kuliner babi dan penjualan daging babi di pasar kembali menggeliat.

"Perjalanan virus babi ini agaknya sudah mulai berhenti. Terlihat dari laporan ini, belakangan enggak bertambah. Penemuan bangkai babi, nihil," ujar Erma.

Walau demikian, Erma mengaku, upaya untuk mengisolasi daerah agar wabah ini tak kembali masuk ke Dairi, belum ada.

"Mengisolasi daerah itu kan perlu ada pos check-point. Kita enggak punya itu. Mau diadakan, APBD sudah disahkan, sehingga enggak ada lagi celah," ujar Erma.

Erma menyebut, hal menggembirakan imbas merebaknya wabah African Swine Fever ialah banyak peternak babi beralih ke usaha lain, seperti beternak ayam dan ikan lele.

"Kemarin sewaktu saya turun ke kecamatan, banyak peternak babi sudah banting setir jadi peternak ayam dan peternak lele," kata Erma lagi.

Ia menambahkan, populasi ternak babi di Dairi kini tinggal sedikit, berkisar 2.000-an ekor.

"Sejauh ini, laporan yang masuk ke saya masih 1.742 ekor. Masih ada kecamatan yang belum masuk datanya, seperti Kecamatan Silahisabungan dan Kecamatan Tanah Pinem. Mungkin akan di angka 2.000-an ekor," tandas Erma.

(cr16/tribun-medan.com)

Penulis: Dohu Lase
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved