Breaking News:

Cerita Kehidupan

Mundur dari Seorang Bankir, Fifin Memulai Usaha dan Bangun Bisnis Keripik Kentang

Kesuksesan berawal dari pengorbanan. Fokus pada tujuan dan berjuang maka hasilnya akan kamu dapatkan.

TRIBUN MEDAN/NANDA RIZKA NASUTION
Fifin Supriyanti dengan usaha Kriken atau keripik kentang miliknya. Mantan bankir swasta ini memilih memutuskan kontrak dan menjadi seorang wirausaha. Ia memilih melanjutkan usaha dagang keripik kentang yang dibangunnya. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kesuksesan berawal dari pengorbanan. Fokus pada tujuan dan berjuang maka hasilnya akan kamu dapatkan.

Hal ini menjadi alasan Fifin Supriyanti seorang mantan bankir swasta memilih memutuskan kontrak dan menjadi seorang wirausaha. Ia memilih melanjutkan usaha dagang keripik kentang yang dibangunnya.

"Dulunya saya bekerja di perusahaan perbankan swasta. Usaha keripik kentang ini awalnya hanya hobi. Setiap ada arisan dan lebaran, saya nembuat keripik kentang. Ternyata banyak peminat dan teman-teman terus memesan. Semakin hari semakin banyak. Akhirnya kenapa tidak dicoba untuk usaha saja," katanya, Rabu (5/2/2020).

Fifin lalu memutuskan membangun usaha Kriken yang merupakan singkatan dari keripik kentang pada 2017. Pada Agustus 2019, dengan alasan harus fokus, ia memutuskan resign dari pekerjaan.

"Gak boleh serakah ya. Sudah dapat di sini mau di tempat yang lain juga. Saya ingin fokus karena alhamdulillah semakin banyak pelanggan. Kita harus terjun langsung," tuturnya.

Kriken, dijelaskan Fifin menggunakan jenis kentang kecil. Awalnya ia melihat banyak yang menjual keripik kentang. Ia berpikir bagaimana agar ada ciri khas dan memilih kentang berukuran kecil. Setelah di goreng, bentuknya seperti koin.

"Inilah ciri khas dari Kriken. Yang utama adalah Kriken digoreng dengan kering. Variannya ada balado, original dan teri. Dari awalnya coba-coba, per bulan kita bisa produksi 800 kilo kentang ari semua varian," ungkapnya.

Kriken saat ini dijual di platform pasar online seperti Shopee, Bukalapak dan Instagram. Tidak main-main, penikmat keripik kentang milik Fifin sudah sampai Belanda dan Australia. Katanya, media sosial sangat membantu. Ia mempelajari marketing lewat media digital ini sendiri.

"Apalagi anak sekarang tidak lepas dari ponsel. Bangun tidur asumsinya pasti pegang ponsel. Kita langsung posting. Kemudian jam makan siang. Saya melihat diri saya sendiri. Sore mau pulang lihat ponsel. Kalau malam sudah capek jadi enggak pegang ponsel lagi. Harus punya ide biar kita gak jenuh," katanya.

Ia mengatakan, berapa pun pemesan, ia akan mengusahakan karena katanya berjualan tidak boleh memilih. Semuanya rezeki. Terakhir, ada yang memesan 100 kilo kentang. Katanya, satu atau banyak akan diakomodir.

Halaman
123
Penulis: Nanda Rizka Nasution
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved