Siapapun Wali Kotanya, Persatuan Tunanetra Harap Pemimpin Perhatikan Akses Disabilitas

Mardizon mengatakan siapapun wali kota Medan nantinya yang terpilih, ia berharap besar dapat memperdulikan akses pelayanan terhadap disabilitas

TRIBUN MEDAN/GITA TARIGAN
Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kota Medan, Mardizon Tanjung saat berbincang dengan tribun Medan di Sekertariat Pertuni Medan, Jalan Sampul Nomor 30, Medan Petisah. 

TRIBUN-MEDAN.com - Menjelang dilaksanakannya Pemilihan umum Wali Kota Medan (Pilwalkot) 2020 September mendatang, Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kota Medan, Mardizon Tanjung berharap setiap calon, memiliki program yang peduli terhadap warga disabilitas.

Kepada Tribun-Medan.com Mardizon mengatakan siapapun walikota Medan nantinya yang terpilih, ia berharap besar dapat memperdulikan akses pelayanan terhadap disabilitas, terutama tuna netra.

"Tahun ini kan ada pilwalkot ya, harapan kami dari Pertuni ya setiap calon itu punya visi misi untuk mensejahterakan kaum disabilitas. Seperti pelayanan publik, akses jalan yang ramah disabilitas dan lainnya," katanya, Jumat (7/2/2020).

Ia mengatakan para calon juga kiranya memperhatikan beberapa permasalahan yang kerap dialami warga tuna netra.

Ia mengatakan semakin mendesaknya kebutuhan ekonomi, beberapa tahun belakangan semakin banyak pula Tuna Netra yang banting setir menjadi penjaja kerupuk ataupun pengamen.

Hal tersebut kata Mardison dikarenakan semakin menipisnya minat orang untuk menggunakan jasa urut tuna netra sehingga mereka terpaksa mencari sampingan ataupun beralih profesi.

"Apalagi sekarang kan, dengan kurangnya minat orang memijat, semanjak menjamurnya spa ataupun massage. Jadi kan kita ini tunanetra mencari alternatif lain seperti berjualan kerupuk, kami menjual kerupuk ke beberapa tempat, ada pula yang mengamen dan lainnya. Sebab anak kami butuh makan dan sekolah. Nah tentunya kami membutuhkan kondisi jalan yang baik, memiliki Guiding Block," katanya.

Ia juga berharap Walikota Medan nantinya dapat lebih peka terhadap kebutuhan kaum disabilitas terutama di bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

"Selain itu di tahun 2020 ini saya berharap Kami lebih mudah untuk mengakses BPJS, karena teman-teman yang tunanetra ini belum juga semua yang dapat BPJS. Misalnya anaknya 4 Nanti yang dapat cuman 3, ada yang anaknya 3 yang dapat cuman 2. Kepada Pemko Medan mudah-mudahan harapan kami mohon lah diberikan pelayanan BPJS ini. Karena kami banyak yang sudah bekerja di jalan," katanya

Ia mengatakan tuna netra yang memiliki bakat urut atau massage dapat lebih diperhatikan. Sebab mereka dahulunya juga telah mengikuti pelatihan yang terkualifikasi, namun semenjak menjamurnya Spa dan Massage, masyarakat kurang berminat menggunakan jasa mereka.

"Semenjak lima tahun belakang ini sangat terasa kurangnya, sebenarnya kami sedih melihat anggota kami yang bakatnya itu urut tapi terpaksa ngamen, jual kerupuk. Tapi ya mau gimana lagi, kami harus tetap mencari nafkah buat keluarga. Maunya Pemko kedepannya bisa membuat tempat khusus buat kami, misalnya di Rumah Sakit, Mall, dan lainnya. Disediakan satu ruang buat kami memijat. Saya yakin ini bisa berkembang baik sehingga kawan-kawan yang lain enggak perlu mengamen lagi, bahkan semakin mengembangkan bakatnya," katanya.

Pemijat tuna netra katanya bukan pemijat sembarangan, baik itu anggota Pertuni atau bukan, umumnya para pemijat sudah mengikuti pelatihan yang cukup lama.

"Kita harap, warga disabilitas tuna netra dan lainnya diberi ruang untuk mengembangkan bakat dan kemampuan. Serta dimudahkan dalam mengakses pelayanan publik," katanya

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved