Demo Save Babi

Kadis Peternakan Salahkan Media Sosial karena Sebarkan Hoaks Pemusnahan Babi

Menurut Azhar, Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi tidak pernah ada niat untuk memusnahkan seluruh hewan ternak babi.

Kadis Peternakan Salahkan Media Sosial karena Sebarkan Hoaks Pemusnahan Babi
TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Ribuan pengunjuk rasa yang tergabung dalam Gerakan Save Babi melakukan aksi damai di kantor DPRD Sumut, Medan, Senin (10/2/2020). Dalam aksinya, mereka menolak pemusnahan babi dan mendesak pemerintah segera menangani virus Hog Cholera di Sumatera Utara. 

TRIBUN MEDAN.com - Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perternakan Provinsi Sumatera Utara Azhar Harahap menilai sah-sah saja ribuan orang datang berunjukrasa dengan mengatasnamakan 'Save Babi'.

Menurutnya, selama ini masyarakat ataupun peternak babi salah menerima informasi yang telah disampaikan. Seakan menyalahkan media sosial, Azhar menyebut, bahwa pemerintah selalu mengedepankan kesejahteraan masyarakat.

Ia mengatakan, Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi tidak pernah ada niat untuk memusnahkan seluruh hewan ternak babi, agar dapat menghentikan penyebaran virus Hog Cholera ataupun Africa Swine Flu.

"Aksi itu sah-sah saja, penyampaian aspirasi masyarakat. Demo ini jelas adanya Miss komunikasi, terkait penanganan masalah virus ini."

"Berita di media sosial, telah kita luruskan, di mana tidak ada pemusnahan," kata dia, saat ditemui di lantai 10, Kantor Gubernur, Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Medan, Senin (10/2/2020).

Dalam aksinya, pengunjukrasa mempertanyakan pemerintah yang sampai dengan saat ini dianggap tidak bisa menuntaskan masalah wabah virus ini.

Azhar Harahap mengatakan, saat berada di DPRD Sumut, pihaknya sudah menerima seluruh aspirasi yang disampaikan oleh pendemo. Setelah menampung aspirasi pendemo, pihaknya akan membahas secara internal tentang tuntutan tersebut.

"Masalah demo, kita terima dengan baik oleh anggota DPRD Sumut.  Tuntutan yang disampaikan oleh pendemo kepedulian ASF di Sumut. Aspirasi akan kita bahwa bersama-sama nanti," ujarnya.

Sampai dengan saat ini, kata dia sebanyak 46 ribu hewan ternak babi mati secara mendadak karena terkena virus ini. Setelah menampung aspirasi, kata dia pendemo tidak akan turun ke jalan lagi. Sebab, pihaknya sudah menyampaikan bahwa masyarakat dan peternak salah menyikapi informasi dari media sosial.

"Mereka tidak akan melakukan aksi lagi terhadap masalah ini," ucapnya.

Dalam pertemuan dengan pendemo, kata dia pemerintah saat ini tidak ada membahas ganti rugi kepada peternak yang babinya mati terkena virus. Akan tetapi, pihaknya sekarang tengah bergerak bagaimana bisa memulihkan ekonomi para peternak.

"Tidak ada pembahasan ganti rugi kepada peternak. Pemulihan ekonomi kepada peternak," ujarnya.

(wen/tribun-medan.com)

Penulis: Satia
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved