Breaking News:

TPA Tadukan Raga Ditutup, Banyak Tumpukan Sampah di Tanjungmorawa

Penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Desa Tadukan Raga, Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deliserdang, berdampak besar.

Tribun Medan/Indra Gunawan
Seorang warga membuang sampah di area tumpukan sampah yang ada di Jalan Perintis Kemerdekaan Tanjungmorawa Senin, (10/2/2020). 

TRIBUN-MEDAN.com - Penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Desa Tadukan Raga, Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deliserdang, berdampak besar.

Hal ini lantaran pada saat ini hanya ada satu TPA yang tersisa di Kabupaten Deliserdang yakni TPA di Desa Namo Rube Julu, Kecamatan Kutalimbaru.

Karena persoalan jarak tempuh, sampah-sampah yang ada di tiap-tiap Kecamatan pun sulit untuk ditangani dengan optimal. Terhitung ada 22 kecamatan yang kini memanfaatkan TPA Namo Rube Julu untuk pembuangan akhir

Informasi yang dikumpulkan, salah satu Kecamatan yang paling merasakan dampak besar penutupan TPA di Tadukan Raga adalah Kecamatan Tanjungorawa. Tumpukan-tumpukan sampah pun tampak di berbagai titik sudut Kota Tanjungmorawa. Sampah bisa menumpuk karena tidak bisa diangkut dengan cepat oleh pihak Kecamatan.

Pantauan www.tribun-medan.com Senin, (10/2/2020) selain berlalat, sampah-sampah itu juga mengeluarkan bau yang tidak sedap. Pemandangan itu terlihat diantaranya di Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jalan Irian. Sampah-sampah yang menumpuk di kawasan Tanjungmorawa ini pun kini terus diperbincangkan di media sosial.

"Tanjungmorawa sudah macam jadi kota sampah. Ya dimana-mana ada aja tumpukan sampah nampak. Tapi memang salah masyarakat juganya kenapa sampah dibuang di pinggir jalan."

"Benci kali memang lihat orang buang sampah di pinggir jalan, kan jadi bau. Buat lubang sampah sendiri saja kan bisa di rumah. Pemerintah pun ya enggak boleh diam sajalah kan bisa diangkut sampahnya," kata Beny salah satu warga Tanjungmorawa.

Camat Tanjungmorawa, Marianto Irawadi mengakui kalau sampah terus diperbincangkan di media sosial saat ini. Ia membenarkan bahwa penumpukan sampah bisa terjadi lantaran punya keterbatasan dalam hal pengangkutan sampah.

Jika biasanya tumpukan sampah bisa diangkut dalam waktu setengah jam ke TPA Tandukan Raga kini waktu yang ditempuh bisa memakan waktu empat sampai lima jam sekali berangkat ke TPA Namo Rube Julu. Diakui juga kalau saat ini ia juga punya keterbatasan mengenai armada pengangkutan.

"Sebenarnya untuk armada ada tiga tapi yang bisa jalan hanya satu. Dua lagi itu rusak karena memang sudah tua. Ya saya akan terus berusahalah untuk mengatasi persoalan sampah ini."

"Hari ini saya juga mengumpulkan para Kades agar ikut membantu mensosialisasikan ke masyarakatnya agar tidak membuang sampah sembarangan lagi. Karena yang sekarang ini terjadi baru saja kita angkut beberapa menit kemudian sudah menumpuk lagi," kata Marianto Irawadi.

Informasi lain yang dikumpulkan, Tanjungmorawa menjadi paling besar merasakan dampak dari penutupan TPA Tadukan Raga karena jumlah armada yang dimiliki tidak sesuai dengan kondisi banyaknya sampah. Jika biasanya Kecamatan ini merupakan kecamatan paling dekat dengan TPA Tadukan Raga namun pada saat ini Tanjungmorawa menjadi salah satu Kecamatan yang jauh membuang sampah ke Kutalimbaru. (dra/tribun-medan.com)

Penulis: Indra Gunawan
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved