Pelatih Genjot Fisik Taekwondoin Sumut: Kekuatan Otot Masih Lemah

"Hasil tes fisik, kekuatan otot-otot mereka lemah," kata Pelatih taekwondo Sumut, Basuki Nugroho.

Pelatih Genjot Fisik Taekwondoin Sumut: Kekuatan Otot Masih Lemah
HO
Kadispora Sumut Baharuddin Siagian bersama pelatih Basuki dan Taekwondoin Sumut Opie Danena Ginting (dua, kiri) usai merayakan juara di Pra-PON 2019 lalu yang digelar di Indoor Stadium Sport Center, Tangerang. 

TRIBUN-MEDAN.com - Jelang perhelatan akbar Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 di Papua, Pengurus provinsi (Pengprov) Taekwondo Indonesia (TI) Sumut tengah fokus menggembleng dua atletnya dalam program Pemusatan Pelatihan Daerah (pelatda).

Keduanya adalah Opie Danena Ginting yang merupakan andalan di nomor under-73 kg putri, dan Muhammad Iqbal yang turun di kelas under 87 kg putra.

Pelatih taekwondo Sumut, Basuki Nugroho mengatakan, usai sukses meraih tiket lolos pada Pra-PON 2019, dua taekwondoin Sumut tersebut sudah mulai menjalani latihan secara intens Januari.

Berdasarkan jadwal PON yang bakal digelar bulan Oktober mendatang, maka ada lebih kurang sembilan bulan lagi waktu yang bisa dipergunakan bagi para atlet Sumut untuk mematangkan persiapan masing-masing.

"Meski pelatda berjalan KONI Sumut resmi dimulai 1 Februari, tapi kalau untuk cabor taekwondo kita sudah mulai sejak bulan Januari. Hanya saja kemarin itu masih mandiri," ujarnya, Selasa (11/2/2020).

Basuki menuturkan dalam program pelatda awal ini, latihan para atlet masih difokuskan pada materi peningkatan kualitas fisik. Pasalnya dari data hasil tes yang digelar dilaksanakan KONI Sumut pada Januari lalu, Basuki menilai kondisi fisik dua atletnya kurang bagus. Karena itu di tahap awal ini, sebagai pelatih dia masih lebih banyak menerapkan porsi latihan fisik ketimbang teknik.

"Berdasarkan hasil tes atlet di UNIMED kemarin, kondisi anak-anak masih kurang baguslah. Terutama soal fisik. Makanya di bulan Februari sampai April ini fase nya kan persiapan umum, jadi difokuskan untuk pengembangan kondisi fisiknya. Tapi, latihan teknik tetap kita latihkan, dengan presentase lebih kecil," terangnya.

Basuki menjelaskan, penurunan fisik atlet usai Pra-PON umumnya karena keduanya mengurangi porsi dan intensitas latihan. Hal itu ditambah dengan adanya aktivitas lain sehingga para atlet tidak berlatih seperti sebel Pra-PON.

"Mereka juga kembali ke pengcab dan Dojang (perguruannya) masing-masing. Jadi memang tidak terpantau intens untuk sementara," ungkap peraih emas SEA Games 2011 ini.

Maka dari itu, lanjut Basuki, waktu yang ada lebih kurang tiga bulan dalam program pelatda awal ini akan dimanfaatkan betul untuk menggenjot kualitas fisik anak asuhnya. Menurutnya dalam olahraga asal Korea ini kemaluan fisik juga akan menentukan dengan pertandingan yang padat untuk bisa meraih juara.

Nantinya, usai pelatda awal, fisik atlet akan kembali dievaluasi di bulan April. KONI Sumut sebagai organisasi yang berperan dalam pembinaan prestasi atlet dijadwalkan bakal kembali menggelar tes kedua. Dari tes itulah akan bisa diketahui apakah ada peningkatan atau tidak selama menjalani program berjalan tahap awal ini.

"Makanya maksimal latihan daya tahan. Latihan fisik setiap hari di waktu pagi. Senin, Rabu, Jumat latihan di PPLP dengan program lari untuk pengembangan daya tahan. Sedangkan Selasa, Kamis, Sabtu kita nge-gym. Karena hasil tes fisik, kekuatan otot-otot mereka lemah juga. Persiapan umum ini kita fokusnya di situ dulu ," pungkas taekwondoin senior yang pensiun pada tahun 2016 lalu ini.

(cha/tribun-medan.com)

Penulis: Chandra Simarmata
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved