Pemprov Sumut Kewalahan Atasi Masalah Sampah yang Mencapai 10 Ribu Ton per Hari
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kewalahan mengatasi masalah sampah yang setiap harinya terus meningkat.
Penulis: Satia | Editor: Juang Naibaho
TRIBUN MEDAN.COM, MEDAN - Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kewalahan mengatasi masalah sampah yang setiap harinya terus meningkat.
Produksi sampah saat ini mencapai 10.091 ton/hari atau 3.683.135 ton/tahun, dan menjadi persoalan tersendiri bagi pemerintah.
Sekretaris Daerah (Sekda) Sumut, Sabrina meminta kepada seluruh jajaran belajar mengelola sampah pada negara tetangga, yaitu Malaysia.
"Kita harus belajar dari Malaysia soal kebersihan. Bagaimana pengolahan sampah di sana, mulai dari pengelolaan sampah berasal dari limbah rumah, karena selain dari regulasi pasti ada faktor lainya yang membuat warga Malaysia khususnya di Penang, patuh untuk tidak membuang sampah sembarangan," ujar Sabrina, ketika menerima kunjungan silahturahmi Konsul Jenderal Malaysia di Medan YM Aiyub Bin Omar bersama rombongan di Ruang Kerja Kantor Gubernur Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Medan.
Sabrina mengaku tertarik belajar dari Malaysia lantaran kultur dan budaya Sumut tidak jauh berbeda dengan Malaysia. Sehingga apa yang sudah dilakukan di Malaysia sangat mungkin untuk diterapkan di Sumut.
"Malaysia itu kultur dan budayanya tak jauh berbeda dengan Sumut. Jadi mungkin apa yang sudah dilakukan di Malaysia bisa juga kita terapkan di sini. Sebab ke depannya Pemprov Sumut akan meningkatkan pengelolaan sampah dan limbah,"ungkap Sabrina.
Sampai saat ini, Sumut menghasilkan timbunan sampah sekitar 10.091 ton/hari atau 3.683.135 ton/tahun. Namun yang terkelola baru 11%.
Pada tahun 2019 agar sampah dapat dikelola dengan baik dan benar, Pemprov Sumut telah membangun satu unit Pusat Daur Ulang (PDU) di Kecamatan Beringin, Kabupaten Deliserdang. PDU ini akan mengubah sampah menjadi kompos, biogas dan bahan bakar untuk produksi.
Konsul Jenderal Malaysia di Medan YM Aiyub Bin Omar mengatakan, bahwa di Malaysia warga sejak usia belia sudah diajarkan untuk berpikir dan bertindak membuang sampah pada tempatnya.
"Di usia kanak-kanak sudah diterapkan terlebih dahulu. Sehingga pada generasi seterusnya akan tercipta generasi yang gemar buang sampah pada tempatnya," jelasnya.
(Wen/Tribun-Medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/sekda-sumut-dan-konsulat-jenderal-malaysia.jpg)