Warga Medan Danai di Elang II Keluhkan Sampah yang Dibuang ke Parit Mandala

Warga Jalan Elang II Perumnas Mandala, Kecamatan Medan Denai mengeluhkan sampah yang dibuang ke parit sebagai aliran air dari daerah Mandala

Warga Medan Danai di Elang II Keluhkan Sampah yang Dibuang ke Parit Mandala
TRIBUN MEDAN/MAURITS PARDOSI
Situasi parit di Jalan Elang II Perumnas Mandala, Kecamatan Medan Denai yang menghitam dan mengeluarkan aroma busuk saat berdiri didekat aliran air tersebut. 

MEDAN-TRIBUN.com, Medan - Warga Jalan Elang II Perumnas Mandala, Kecamatan Medan Denai mengeluhkan sampah yang dibuang ke parit sebagai aliran air dari daerah Mandala menuju Sungai Denai.

Aliran air dari Mandala dialirkan ke Sungai Denai. Aliran air ke Sungai tersebut tidak bisa berjalan dengan lancar akibat sampah yang kerap menumpuk di parit tersebut.

Hutapea (63), warga Jalan Elang II menegaskan bahwa kebiasaan masyarakat Mandala membuang sampah menjadi suatu faktor aliran air tersendat dari daerah Mandala menuju Sungai Denai.

"Masalah utama adalah sampah, dari dulu memang daerah ini sudah menjadi daerah banjir. Maka, kami tetap waspada kalau hujan sudah turun," ujar Hutapea saat disambangi di kediamannya di Jalan Elang II Perumnas Mandala pada Sabtu (15/2/2020).

Sampah yang dibuang ke parit adalah sampah dari rumah berupa plastik dan sampah lainnya.

"Kalau sampah itu datang dari mana-mana, ada saja orang yang dengan sebagai buang sampah di sini. Kita mana tahu siapa saja itu, lagian buang sampah itu pun disaat sudah gelap. Kadang-kadang juga terang-terangan," tambah Hutapea (63), warga Jalan Elang yang bertempat tinggal di dekat aliran air (parit) tersebut.

Selain sampah rumah tangga berupa plastik, ternyata, pembuangan septic tank juga dibuang ke parit yang menyebabkan aroma busuk di daerah Jalan Elang II.

"Bukan cuman sampah plastik, kotoran pun langsung dibuang ke parit juga. Kita bisa lihat riol yang ada disini, langsung menuju parit. Itu yang buat bau ditambah sampah-sampah itu," tambahnya.

Sampah yang dibuang ke parit ini akan jelas terlihat saat musim kemarau.

"Kalau lagi hujan datang, sampah itu kan enggak kelihatan. Tiba coba sudah kering, jelaslah terlihat sampahnya, banyaklah sampah itu," ujar seorang ibu bermarga Pakpahan (60) saat ditemui di depan rumahnya.

(cr3/medan-tribun.com)

Penulis: Maurits Pardosi
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved