Inspirasi

Back to Basic

Semua proses kehidupan dimulai dari nol. Belajar dari hal paling dasar dan kita mulai naik kelas

Pixabay
Photo ilustrasi 

SEMUA proses kehidupan dimulai dari nol. Belajar dari hal paling dasar dan kita mulai naik kelas. Sama halnya dengan dunia kerja, semua ahli / pakar berawal dari seorang fresh graduate yang belum mengetahui apa-apa. Setiap hari harus menghadapi masalah, menyelesaikan masalah, dan mulai memahami best practise dari setiap permasalahan.

Mari kita ambil contoh untuk kita kupas dalam artikel ini, misalnya mengenai penjualan barang. Tim marketing dalam setiap perusahaan memikirkan promo apa yang akan diberikan untuk pelanggan setiap 3 bulan, setiap 1 bulan, bahkan bisa sampai setiap minggunya. 

Ada promo buy 2 get 1 dimana kita membeli 2 barang akan mendapatkan 1 barang gratis. Ini termasuk menarik, tetapi tidak semua orang tertarik dengan promo ini ketika belum membutuhkannya. Muncul promo lainnya lagi, belanja untuk kumpulkan poin. Poin tersebut bisa ditukar dengan voucher diskon belanja. Kembali lagi ke masalah yang sama yaitu orang belum tertarik ketika belum membutuhkannya apalagi kita harus mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit untuk mengumpulkan poin tersebut. 

Proses berpikir akan memunculkan kompleksitas. Kombinasi dari beragam promo terkadang membuat tim marketing sendiri kebingungan bagaimana cara mengukur efektivitasnya. Padahal sederhana, turunkan saja harga barangnya maka pelanggan akan mulai melirik dan yang awalnya tidak membutuhkannya pun bisa mulai menginginkannya. Sederhana? Ya, benar.

Kita ambil contoh lainnya yaitu dunia IT mengenai big data. Awal mula muncul database bertujuan untuk menyusun data menjadi rapi sehingga mudah dikelola dan dikembangkan. Beragam jenis data dari berbagai sumber dan berbagai format dimasukkan ke database dengan satu format saja yaitu teks yang disusun ke dalam tabel. Data suara, gambar, dan video harus diubah menjadi teks untuk dimasukkan ke dalam database. Kelihatannya sudah sempurna bukan?

Waktu demi waktu, kebutuhan akan data semakin membesar sehingga muncul istilah big dataBig data mampu menyimpan semua jenis bentuk data tanpa harus terikat dengan satu standar seperti database. Suara, gambar, dan video mampu disimpan kedalamnya tanpa harus diubah menjadi teks. Ini seperti bertolak belakang dengan konsep database yang telah membuat segala sesuatunya menjadi satu standar. Kenapa harus menghancurkan standar tersebut? Bukankah kita membalikkan diri lagi ke awal dimana segala sesuatunya tidak memiliki satu standar?

Ini yang kita sebut back to basic. Kita setiap harinya terus belajar tanpa kita sadari. Pengetahuan kita bertambah dan kita cenderung membuat segala sesuatunya menjadi kompleks, bahkan complicated. Stres, depresi, dan tidak bahagia mulai menghampiri kita. Kenapa kita tidak belajar dari seorang anak kecil yang polos, yang mampu melihat segala sesuatunya dari dasar? Mereka bahagia, dan mereka pasti mampu menyelesaikan masalah secara sederhana. Hal kompleks sekalipun dilihat sederhana oleh anak kecil. 

Solusinya adalah KISS (Keep It Simple) yang kerap kita dengar dari seorang atasan / pimpinan di dunia kerja. Jangan menganggap remeh KISS, karena penyelesaian setiap masalah selalu dimulai dari hal paling dasar, yaitu dari anak tangga pertama. Kita memecahkan masalah kompleks menjadi beberapa bagian yang sederhana barulah kita mampu mulai menyelesaikannya. 

Salam Dasar.

Salam Back To Basic.

Trust - Do - Feel - Learn

By: Darwin, S.Kom., M.Kom., CPS®, CRSP, CH, BKP

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved