BBKSDA Minta Gajah di Medan Zoo Tidak Lagi Ditunggangi

BBKSDA mengusulkan agar gajah yang ada di sana agar diajak berinteraksi kepada pengunjung lewat memandikannya.

TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Bangkai gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatresnsis) yang mati di Medan Zoo, Sabtu (25/1/2020). Petugas melakukan autopsi gajah untuk pengambilan sejumlah organ tubuh gajah guna penyelidikan penyebab kematian. 

MEDAN-TRIBUN.com - Penyebab kematian gajah sumatera di Medan Zoo, Neneng pada Sabtu (25/1/2020) belum dapat disimpulkan.

Kepala Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, Hotmauli Sianturi membeberkan bahwa mereka belum mendapatkan hasil nekropsi gajah mati tersebut.

"Sampai saat ini, kita belum mendapatkan hasil nekropsi dari Bogor sekaitan matinya gajah di Medan Zoo," ujar Hotmauli Sianturi saat dikonfirmasi pada Kamis (20/2/2020).

Karena belum adanya hasil nekropsi kematian gajah di Medan Zoo, Hotmauli menduga bahwa kematian gajah tersebut oleh faktor alam.

"Kami duga bahwa kematian gajah tersebut kemungkinan besar karena faktor alam. akibat umurnya yang sudah tua, atau juga faktor alam. Gajah itu kan sudah tua, kalau masalah penyakit, itu bisa saja karena umurnya sudah tua. Kadang kan penyakit kalau sudah tua itu tidak selalu terlihat dari luar," paparnya.

Perihal hasil nekropsi, pihak BBKSDA Sumut akan terus mengejar hasil nekropsi kematian gajah di Medan Zoo.

Kepala BBKSDA Sumut Hotmauli Sianturi menyampaikan hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan info hasil nekropsi gajah mati di Medan Zoo.
Kepala BBKSDA Sumut Hotmauli Sianturi menyampaikan hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan info hasil nekropsi gajah mati di Medan Zoo. (Tribun Medan/Maurits Pardosi)

"Kami akan tetap kejar hasil nekropsinya, kami akan tanyakan kembali," tambahnya.

Saat ditanyai mengenai seputar aktivitas gajah yang ditunggangi oleh pengunjung, BBKSDA memberikan keterangan.

"Sesudah itu mati, saya langsung ke sana, terus terang, dan langsung saya bilang bahwa itu enggak bisa lagi ditunggangi. Dan tampaknya, itu sudah lama tidak ditunggangi, cuma dibawa keliling. Yang sekarang, kita sudah bilang tidak bisa lagi ditunggangi," sambungnya.

Selanjutnya, Hotmauli Sianturi mengusulkan agar gajah yang ada di sana agar diajak berinteraksi kepada pengunjung lewat memandikannya.

"Saran kami kemarin, disitu di bawah itu kan ada kolam, supaya anak-anak yang datang dapat berinteraksi dengan gajah, ya dimandikan saja. Jadi, anak-anak itu diajak memandikan gajah. Lebih pada edukasi, enggak boleh lagi ditunggangi," tambahnya.

Menyoal mengenai gajah sebagai tunggangan, Hotmauli menyampaikan bahwa pihak BBKSDA akan memberikan teguran bahkan mencabut izin Lembaga Konservasi (LK) kalau gajah masih tetap ditunggangi.

"Kalau sudah terlalu bandel ya, kita pertama kan berikan teguran. Apapun katanya Medan Zoo kan kebanggaan Sumatra Utara, apapun caranya kita harus mendukung bagaimana kebaikan Medan Zoo itu," ujarnya.

"Kalau minta gajah baru itu sah-sah saja, tapi saya tidak mau kalau gajahnya yang korban. Sebelum ada perbaikan sarpras di Medan Zoo, saya tidak akan menambah satwa. Kami juga sudah surati Pemko, tapi mereka alami kesulitan keuangan," ungkapnya. (cr3/tribun-medan.com)

Penulis: Maurits Pardosi
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved