Jambatan di Sukadamai Berkarat dan Bolong, Warga Takut Melintas
Selain dilewati pejalan kaki, tak jarang juga jembatan tersebut dilewati oleh penggendara sepeda motor.
TRIBUN-MEDAN.com - Cukup miris melihat keadaan jembatan gantung yang menghubungkan lingkungan II Kelurahan Sukadamai, Medan Polonia, ke lingkungan IX Kelurahan Kampung Baru, Medan Maimun.
Pasalnya, jembatan yang kerap dilewati ratusan warga setiap harinya itu dalam kondisi yang cukup memprihatinkan.
Pantauan Tribun Medan, Jumat (21/2/2020) jembatan yang didominasi oleh kayu tersebut sudah terlihat rapuh dan berlubang, selain itu pegangan kiri dan dan jembatan yang terbuat dari besi sudah terlihat berkarat dan rapuh.
Selain itu, beberapa lubang terlihat ditambah asal saja menggunakan kayu. Saat melewati jembatan tersebut tak jarang masyarakat ketakutan karena takut sewaktu-waktu roboh sebab terdapat Sungai Deli yang cukup dalam di bawahnya.
Hal tersebut diungkapkan oleh seorang warga Sukadamai yang ditemui wartawan di lokasi, Dara mengaku sebenarnya takut setiap kali melewati jembatan tersebut, namun apa daya untuk pergi ke sekolah, jembatan tersebut merupakan alternatif tercepat agar tidak terlambat sekolah.
Masih menggunakan seragam pramuka, Dara dan dua kawan lainnya terlihat melambatkan langkah saat melewati jembatan, Dara mengaku semakin takut apabila harus melewati jembatan saat hujan sebab lebih licin dan arus sungai di bawah cukup deras.
"Saya setiap hari lewat situ, takut sih sebenarnya tapi mau gimana lagi, soalnya kalau lewat jembatan itu bisa lebih cepat jumpa pasar, lebih cepat nyampe sekolah. Jadi ya terpaksa saya berani-beranikan," katanya, Jumat (21/20/2020).
Ia mengatakan selain dilewati pejalan kaki, tak jarang juga jembatan tersebut dilewati oleh penggendara sepeda motor. Meski kondisinya sudah rapuh dan beberapa kayu sudah bolong, ada saja pengguna motor yang berani melewati jembatan tersebut untuk menyingkat waktu.
"Ya, pastinya setiap hari pasti ada pengguna motor yang lewat. Pernah juga ada yang jatuh ke bawah, kalau saya Alhamdulillah belum pernah," katanya.
Ia berharap agar pemko Medan dapat segera memperbaiki jembatan tersebut agar terasa aman dan nyaman saat menggunakannya.
"Harapan saya dan kawan-kawan semoga pemerintah cepat memperbaiki jembatan ini, supaya enggak berlubang, jadi bisa nyaman kami menggunakannya," katanya.
Berbeda dengan Dara, seorang pengendara sepeda motor, Targer menyoroti banyaknya sampah menumpuk dan berserak di sisi kanan dan kiri jembatan. Ia mengaku sangat tidak nyaman saat melewati jalan tersebut.
"Lumayan sering lewat sini mau jumpa sama kawan, kalau jembatannya ya memang parah ya tapi aku rasa lebih parah lagi sampah itu, berserak kayak gitu rasanya kayak kumuh kali. Apalagi kalau air naik sungai sampah-sampah itu terbawa lah," katanya.
Mahasiswa asal Universitas Mikroskill tersebut mengatakan pemandangan tersebut memang kerap terjadi, bukan semakin sedikit kian hari ia melewati jembatan tersebut, semakin banyak pula sampah menumpuk di sana.
Ia mengatakan kondisi jembatan yang cukup parah tersebut, diperparah pula dengan dengan tumpukan sampah di pinggir sungai.
"Aku enggak tahu, di sekitar sini ada tempat pembuatan sampah atau enggak, cuma kalau melihat kondisinya kayak gitu rasanya mungkin enggak ada. Soalnya itu semua pasti sampah dari lingkungan sekitar, dan aku rasa sampahnya semakin banyak, banyakan sampah plastik. Rasanya sedih saja Sungai Deli jadi tempat pembuangan sampah," katanya.
(cr21/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/jembatan_gantung_sukadamai.jpg)