Breaking News:

Liputan Khusus

Ujung Senja Kala Tembakau Deli, Pernah Menghasilkan Triliunan Rupiah Kini Dianggap Tak Menguntungkan

Pada tahun kejayaannnya, penjualan tembakau deli mencapai 50 juta gulden atau kira-kira sama dengan Rp 43 triliun sekarang.

Editor: Liston Damanik
Tribun Medan/Risky Cahyadi
Cerutu dengan pembungkus menggunakan daun tembakau deli. 

Ia ingat sebelumnya ada lebih dari 300 ladang tembakau. Khususnya untuk menanam varian tembakau deli (Nicotiana tobacco). Kemudian, lahan-lahan ini berangsur beralih fungsi menjadi lahan tanam untuk komoditas lain seperti tebu dan sawit.

Dari tahun ke tahun, lahan tanam tembakau terus menyusut. Dari 300-an menjadi seratusan. Berkurang lagi menjadi 50-an. Sekarang tinggal lima. Jika ditotal luasnya tak lebih dari empat hektare.

Satu dari lima yang tersisa tersebut adalah perkebunan ini. Perkebunan Buluh Cina, Hamparan Perak, Deliserdang. Di kebun ini pula terdapat satu-satunya gudang tembakau tersisa. Di area kebun lain, yakni Klumpang, Klambir Lima, dan Helvetia, tidak ada.

"Kalau gudang ini tutup, kalau tembakau tutup, ya terpaksa, lah, cari kerja lain. Tahun 2018 itu kita paling susah di sini. Beberapa kali gaji harus ditunda karena produksi menurun. Sekarang sudah sedikit lebih baik. Enggak ditunda lagi. Namun, ya, belum ada kemajuannya. Dengar-dengar tembakau-tembakau ini belum ada yang diekspor lagi," ucapnya seraya mengatakan, dari sisi kualitas, tidak ada yang berubah dari produksi. Tetap berkualitas tinggi standar Eropa.

Sejarah Panjang Tembakau Deli, Lebih Tua Dibandingkan Pemerintahan Kolonialis

Tembakau Deli Masih Favorit, Harus Mencari Pasar Baru

"Ini yang kami kerjakan panen bulan Maret tahun lalu. Memang panjang prosesnya untuk menghasilkan produk berkualitas. Jadi (kualitas) enggak berubah. Produksinya saja yang berubah. Kayaknya mereka enggak mau nanam banyak-banyak."

Kondisi yang serba tak pasti ini membuat para pekerja ini bekerja dalam kewaswasan. Sebab setiap saat mereka bisa saja dipindahkan ke tempat lain. Atau dipensiunkan.

"Kalau ingat dulu rasa-rasanya seperti enggak percaya saja. Sekarang tinggal kami-kami saja, lah, di sini. Tembakau enggak banyak lagi. Padahal dulu pernah kami ekspor tembakau seribu bal. Sekarang sepersepuluhnya saja enggak ada lagi," kata perempuan pekerja yang lain. Seperti perempuan sebelumnya, ia juga menolak menyebutkan nama.

"Enggak usahlah (disebut nama). Untuk apa. Pastinya sampai sekarang kami masih bekerja di sini. Entah sampai kapan. Saya sudah 30 tahun bekerja. Rata-rata kami di sini sejak masih muda sekali."

Ditanya harapannya, perempuan ini dan rekan-rekannya cuma mengangkat bahu.

"Sejujurnya kalau dari hati, ya, sedih. Pastinya kecewa juga. Tembakau Deli ini kelas dunia. Tembakau diimpor ke luar negeri. Ke Jerman yang bagus. Kalau yang kualitas sedang sampai rendah ke Amerika. Kenapa bisa seperti ini sekarang? Cuma kami mau bilang apa? Kami cuma pekerja. Semua, kan, tergantung sama direksi," katanya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved