Pembunuhan Ibu dan Nenek

Marak Kasus Bunuh Diri, Ini Kata Psikolog

Psikolog Irna Minauli mengatakan, pada banyak kasus bunuh diri, biasanya pelaku mengalami depresi sehingga mereka merasa kehilangan harapan (hopeless)

Tribun Medan/Jefri Susetio
Psikolog, Irna Minauli 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Psikolog Irna Minauli mengatakan, pada banyak kasus bunuh diri, biasanya pelaku mengalami depresi sehingga mereka merasa kehilangan harapan (hopeless) dan merasa tidak ada yang bisa membantunya (helpless).

Itu sebabnya para pelaku bunuh diri sering merasa bahwa mereka tidak memiliki orang-orang sebagai pemberi dukungan sosial yang dapat membantu mereka menghadapi masa-masa sulitnya.

Dukungan sosial menjadi faktor yang sangat penting karena dengan adanya orang-orang di sekitarnya yang dapat membantu secara instrumental.

Misalnya dengan meminjamkan uangnya, ditemani (karena penderita depresi merasa kesepian dan beranggapan tidak ada yang mau menemaninya), memberikan informasi (misalnya memberi rujukan psikolog atau ulama yang bisa membantu) serta yang paling penting adalah dukungan self-esteem (harga diri).

"Mereka yang mengalami masalah biasanya merasa dirinya gagal dan tidak memiliki harga diri lagi. Itu sebabnya dukungan dari sahabat atau orang-orang dekat akan sangat membantu untuk meningkatkan kembali kepercayaan dirinya," katanya, Sabtu (29/2/2020).

Sayangnya, dalam masyarakat yang cenderung menjadi individualis dan sibuk dengan urusannya sendiri, membuat banyak orang menjadi kurang sensitif terhadap masalah yang dihadapi orang lain.

Terlebih ketika sepertinya saat ini setiap orang juga sibuk dengan masalah pencapaian hajat hidupnya untuk dapat bertahan hidup.

Banyaknya hambatan dalam pencapaian goal seperti misalnya kesulitan mendapatkan pekerjaan juga dapat menjadi pemicu depresi.

Bunuh Ibu dan Nenek Tigan, Kades Gunung Manumpak B Cerita Desanya Mencekam karena Ulah Junaidi

Terlebih bagi mereka yang telah dewasa dan dianggap seharusnya sudah mapan secara ekonomi dan juga dalam perkawinan.

"Saat ini, banyak orang yang mengalami quarter-life crisis yang biasa terjadi sekitar usia 25 tahun, seperempat kehidupannya. Kondisi ini semakin parah karena seharusnya ketika seseorang telah berusia 25 tahun, mereka sudah mencapai tahap kedewasaan dan kemandirian secara finansial, sosial dan emosional," ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Liska Rahayu
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved