Mengenal Gundala-Gundala, Tarian Pemanggil Hujan Khas Suku Karo

Banyak yang tidak mengetahui bahwa di suku Karo sendiri memiliki tarian yang saat ini sudah sangat jarang dilakukan yaitu Gundala-Gundala.

Tayang:
Editor: Juang Naibaho
TRIBUN MEDAN / ist
Penampilan tarian topeng Gundala-Gundala khas Karo di kegiatan kebudayaan beberapa waktu lalu. 

Tribun-Medan.com, Medan - Sebagian besar masyarakat ketika mendengar kata Gundala, mungkin akan teringat dengan film superhero Gundala besutan Joko Anwar.

Banyak yang tidak mengetahui bahwa di suku Karo sendiri memiliki tarian yang saat ini sudah sangat jarang dilakukan yaitu Gundala-Gundala.

Tarian Topeng Gundala-Gundala merupakan tarian yang ditujukan untuk memanggil hujan yang konon dulu dipercaya bahwa setiap tarian ini dilakukan, hujan pasti akan turun.

Budayawan Sumatera Utara, Taridem Sitepu mengungkapkan bahwa tarian ini dilaksanakan dalam sebuah ritual acara bernama Erdogal Dogal yang sering dilaksanakan di tanah Karo.

Ia menuturkan bahwa dulunya ritual ini dilakukan ketika terjadi kekeringan atau kemarau berkepanjangan di tanah Karo.

"Yang terkenal dulu melaksanakan tarian ini dari desa Seberaya, namun di jauh sebelumnya juga sudah ada. Di Karo ada dulu upacara Erdogal Dogal yaitu upacara memanggil hujan yaitu suatu ritual masyarakat Karo pada zaman dahulu apabila terjadi kekeringan atau kemarau lama di Karo," ujar Taridem, Senin (2/3/2020).

Dalam menarikan tarian topeng Gundala-Gundala khas Karo, tidak ada batasan penari. Dalam penjelasan Taridem, dulu orang-orang bebas untuk menarikan tarian tersebut.

"Kalau untuk jumlah orangnya bebas. Semua masyarakat terlibat salam acara itu karena semua orang butuh. Mereka menari dengan mengelilingi kampung. Jadi siapa yang tidak ikut dalam acara itu kita datangi kerumahnya," tutur Taridem.

Setiap upacara atau ritual memiliki tradisi, begitu juga dalam ritual tarian topeng Gundala-Gundala ini. Taridem menuturkan bahwa dalam menarikan tarian ritual ini, ada tradisi menyiram air se-kampung dengan menggunakan tembakan dari bambu.

"Jadi air itu dipercikkan dengan menggunakan alat dari bambu seperti tembakan air. Semua masyarakat kampung itu dilibatkan. Kita lakukan dengan mengelilingi kampung hingga akhirnya sampai kita ke sungai. Di sungai itu masyarakat saling siram air," ungkap Taridem.

Dalam ritual ini, para penari menggunakan sebuah topeng diyakini memiliki unsur-unsur magis di dalamnya. Hal ini disampaikan oleh Winarto, Seniman yang mendalami kesenian Gundala-Gundala ini.

"Topeng ini sebagai media, jadi ada transisi dan biasanya tetua kampung yang menarikan. Konon kabarnya pasti datang hujan walau tidak deras. Sampai detik ini jika ditarikan dipercaya akan turun hujan. Topeng ini sangat unik karena konon bahannya itu kayu yang disambar petir. Disitulah magisnya. Hubungan petir, hujan, dan alam dan bagaimana masyarakat karo ini berinteraksi, berdialog, dan hidup di alam," terang Winarto.

Seiring perkembangan zaman, tarian topeng Gundala-Gundala untuk ritual ini kian tergerus oleh modernisasi. Masuknya agama ke tanah Karo ini semakin membuat masyarakat kian meninggalkan tarian ini untuk ritual. Namun tarian tradisi ini kini dilestarikan dan ditampilkan sebagai kegiatan hiburan.

"Kalau sekarang ini ritual Gundala-Gundala ini sudah cenderung ke hiburan. Sekarang ini kita melihat tarian ini sebagai karya seni dan warisan budaya yang ditampilkan dalam berbagai acara kebudayaan," pungkas Taridem. (cr13/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved