Breaking News:

Ngopi Sore

Manis-Pahit Industri Pop: Lyodra Ginting Dicap Sombong

Sindrom popularitas membuat pesohor-pesohor baru merasa diri sebagai bintang dari segala bintang, atau menggiring pada perasaan tertekan.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
tribunnews
LYODRA Ginting saat tampil di babak Grand Final Indonesian Idol musim kesepuluh 

Apakah Lyodra Ginting siap? Kita belum tahu. Dia baru jadi artis selama beberapa hari. Namun seyogianya, Lyodra dan pihak-pihak yang dekat dengan dia; entah itu orang tuanya atau manajemen, mestinya berupaya untuk menjauhkan dia dari sindrom mematikan ini.

LYODRA Ginting di Indonesian Idol
LYODRA Ginting di Indonesian Idol (tribunnews)

Sampai di sini pertanyaannya, apakah menghindarkannya dari wawancara terbuka dengan wartawan merupakan bagian dari upaya tersebut?

Saya tidak bisa memastikan. Mungkin memang demikian. Sekali lagi, Lyodra masih 16 tahun, dan dia barangkali dianggap belum siap sepenuhnya untuk meladeni segala bentuk pertanyaan wartawan zaman sekarang yang seringkali sungguh aduhai tingkat keajaibannya.

Saya teringat pada wawancara Soleh Solihun dengan Ari Lasso. Soleh mantan wartawan musik. Dia pernah bekerja di majalah Rolling Stone dan Trax. Dalam kesempatan itu, Soleh bertanya pada Ari Lasso, mantan (atau sekarang kembali lagi?) vokalis Dewa 19, kenapa dirinya sekarang jarang diwawancarai media.

Ari menjawab pertanyaan ini dengan membandingkan wartawan musik zaman dulu dengan zaman sekarang. Menurut Ari, wartawan musik sebelumnya; dia menyebut beberapa nama besar, jago-jago. Menguasai betul perihal musik sampai ke akar-akarnya. Punya referensi yang dahsyat. Mereka adalah kamus-kamus musik berjalan, hingga saat hendak diwawancara para musisi pun merasa gentar. Salah jawab akan habis dikuliti. Akibatnya bisa sangat fatal. Album tidak laku dan setelahnya tidak ada lagi produser yang melirik.

Sekarang juga seperti itu. Namun, kata Lasso, ketakutannya berbeda. Wartawan zaman sekarang lebih banyak menanyakan hal-hal di luar musik. Misalnya menanyakan tempat kuliner favorit, mobil terbaru, atau gosip-gosip seputar perklenikan, operasi plastik, atau hubungan asmara.

Itu belum seberapa. Sebab paling mengerikan adalah saat hasil wawancara tersebut ditayangkan. Bisa kontradiktif, atau malah dikaitpautkan dengan perkara-perkara yang lain sama sekali. Perkara-perkara yang bahkan tidak disinggung sedikit pun dalam wawancara.

Untuk pesohor sekelas Ari Lasso, atau Agnez Mo, atau Dedi Corbuzier, kebrutalan semacam ini barangkali tidak terlalu jadi soal. Mereka sudah punya "kekebalan". Basis penggemar mereka tak akan goyah.

Lyodra Ginting berbeda. Dia masih belia sekali. Maka dari itu dia memang mesti dilindungi. Namun patut digarisbawahi pula. Perlindungan yang kelewat ketat, terlalu over, juga akan sampai pada imbas yang sama. Mungkin malah lebih parah dan berbahaya bagi kelanjutan karier Lyodra. Sebab yang mencuat nantinya adalah kesinisan. Keartisan masih seumur taoge, kok, ya perasaan sudah kayak Beyonce.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved