Covid-19 Paksa Warga Social Distancing & Berdiam di Rumah, Akibatnya Angka KDRT di Dunia Meningkat

Akibat menerapkan social distancing gara-gara corona atau Covid-19, pemerintah di berbagai dunia mengharuskan warganya agar berdiam diri di rumah.

(KOMPAS.COM/Ilustrasi)
Ilustrasi 

Akibat menerapkan social distancing gara-gara corona atau Covid-19, pemerintah di berbagai dunia mengharuskan warganya agar berdiam diri di rumah.

Tapi, masalah lainnya muncul. Angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) meningkat tajam. Masyarakat terjebak dalam rutinitas yang monoton. Belum lagi efek Covid-19 mengakibatkan kondisi ekonomi menurun drastis.

TRI BUN-MEDAN.com - Pandemi corona tidak hanya mengancam kesehatan dan nyawa manusia, tetapi juga turut memberi tekanan sosial dan ekonomi.

Kebijakan pembatasan sosial (social distancing) di berbagai belahan dunia memaksa banyak orang untuk bekerja dari rumah atau bahkan kehilangan pekerjaannya.

Hal tersebut memungkinkan terjadi tindak kekerasan lantaran tekanan atas kebutuhan ekonomi disatukan dengan tingkat stres tinggi karena terjebak di rumah.

Wanita dan anak perempuan pun menjadi kelompok yang paling terancam karena situasi ini.

Ajudan Ijeck Sembuh dari Covid-19 Setelah Dirawat 13 Hari di RSUP Adam Malik

Kasus KDRT meningkat di sejumlah negara

Dilansir dari VOA (5/4/2020) Sekjen PBB Antonio Guterres menyatakan bahwa meningkatnya tekanan sosial dan ekonomi akibat pandemi virus corona telah menyebabkan meningkatnya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pada wanita dan anak-anak perempuan.

Dia mengatakan, bagi wanita dan anak perempuan, ancaman terbesar justru datang dari tempat di mana seharusnya mereka paling aman, yakni rumah.

"Maka, hari ini saya membuat seruan baru untuk perdamaian di seluruh rumah di dunia," kata Guterres.

Halaman
1234
Editor: Azis Husein Hasibuan
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved