TRIBUN-MEDAN-WIKI: Badak, Minuman Botol yang Legendaris di Sumut

Indonesia juga memiliki produk minuman soda yang terkenal dan legendaris. Salah satunya minuman botol Badak, yang diproduksi di Kota Pematangsiantar.

Tayang:
Editor: Juang Naibaho
Tribun-Medan.com/Aqmarul Akhyar
Minuman soda Badak yang terkenal dan legendaris 

Laporan Reporter Tri bun Medan/Aqmarul Akhyar

TRI BUN-MEDAN-WIKI - Tak hanya luar negeri saja yang memiliki minuman soda terkenal, seperti Cocacola, Fanta, Sprite, dan Pepsi.

Indonesia juga memiliki produk minuman soda yang terkenal dan legendaris. Salah satunya minuman botol Badak, yang diproduksi di Kota Pematangsiantar.

Minuman soda botol Badak ini sudah melewati usia seratusan tahun.

Pabrik minuman ini diperkirakan telah ada sejak tahun 1916, dengan nama NV Ijo Fabriek Siantar.

Minuman botol Badak yang sering mengisi kedai atau warung nasi, dan kafe-kafe ini, didirikan oleh Heinrich Surbeck.

Heinrich Surbeck merupakan seorang pria asal negara Swiss yang tinggal dan menetap di Kota Pematangsiantar.

Selain itu, Heinrich Surbeck diketahui merupakan sarjana teknik kimia, yang juga pecinta alam.

Ia memiliki banyak koleksi tumbuhan dan hewan yang diawetkan.

Konon nama minuman Badak ini muncul karena Heinrich terinspirasi terhadap alam dan hewan-hewan khas Indonesia.

Pada masa itu, Heinrich tak hanya memproduksi minuman botol Badak. Ada beberapa minuman bersoda lainnya, yang diproduksi dengan beragam rasa seperti jeruk, anggur, sarsaparila, hingga air soda.

Namun, sampai saat ini yang masih digemari masyarakat Sumut, khsuusnya Pematangsiantar dan Medan, adalah rasa sarsaparila.

Minuman rasa ini diekstrak dari tumbuhan herbal, yang berasal dari Amerika Tengah.

Lalu, pada saat itu juga, NV Ijs Fabriek Siantar memproduksi sari buah markisa yang diekspor ke sejumlah negara, seperti Swiss, Belanda, dan Belgia, dengan merek Marquisa Sap.

Seiring perkembangan waktu, minuman badak tetap bertahan di berbagai masa. Bahkan, menjadi minuman favorit di kafe-kafe Kota Medan.

Konon, beberapa dekade silam, minuman Badak ini biasanya dikomsumsi pada siang hari.

Akan tetapi, saat ini minumam Badak gemar diminum pada malam hari.

Bahkan, biasanya sebagian orang mengomsumsi minuman Badak dicampur dengan susu kental manis.

Hal ini sering ditemui di kafe-kafe minuman Kota Medan. Peminatnya bukan cuma kaum orang tua, termasuk juga kalangan milenial.

Di pabrik pembuatannya, minuman botol Badak ini dibanderol senilai Rp 200 ribuan per krat.

Biasanya, sebagian pedagang atau pemilik kafe membeli dalam jumlah krat. Satu krat berisi 24 botol.

Untuk membelinya bisa datang langsung ke pabriknya, PT Pabrik Es Siantar.

Saat ini, minuman botol Badak memang diproduksi di bawang bendera PT Pabrik Es Siantar. Hal ini karena pada tahun 1969, seorang pengusaha bermarga Hutabarat mengambil alih perusahaan tersebut.

Ia membeli dengan cara mencicil hingga pada tahun 1971 perusahaan itu benar-benar sepenuhnya menjadi milik Hutabarat. Perusahaan ini kemudian berubah nama menjadi PT Pabrik Es Siantar.

(cr22/tri bun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved