Pergerakan Nilai Tukar, Rupiah Menguat ke Rp15.840 per Dolar AS

Rupiah yang semula berada di kisaran Rp16.200 hingga 16.460, pertengahan Minggu lalu perlahan menguat dan pada akhir Mingguditutup di level Rp15.970

Tribun-Medan.com/Septrina Ayu Simanjorang
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Sumut, Wiwiek Sisto Widayat 

TRI BUN-MEDAN.COM, MEDAN - Kurs rupiah menyentuh posisi Rp15.840 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Senin (13/4/2020).

Rupiah hari ini menguat dari posisi Kamis (9/4) yang berada di Rp16.242 per dolar AS di kurs tengah Bank Indonesia (BI).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Wiwiek Sisto Widayat mengatakan pergerakan nilai tukar rupiah dalam tren penguatan beberapa hari terakhir.

Nilai tukar yang awal Minggu lalu sempat tertekan, dan mulai pertengahan Minggu lalu mulai menunjukkan perbaikan.

"Ya Alhamdulillah rupiah menguat, rupiah yang semula berada di kisaran Rp16.200 hingga 16.460, pertengahan Minggu lalu perlahan menguat dan pada akhir Minggu (Kamis sore 9 April) ditutup di level Rp15.970 per USD," ujar Wiwiek, Senin (13/4/2020).

Dikatakannya, beberapa faktor penyebabnya menguatnya rupiah antara lain nilai rupiah saat ini masih undervalue, sehingga masih ada kecenderungan untuk terus mengalami apresiasi.

Selain itu, risiko di pasar keuangan global masih cukup tinggi namun berangsur membaik.

"Meningkatnya kepercayaan pasar atas prospek perekonomian Indonesia melalui konsistensi kebijakan yang diambil oleh Pemerintah, BI, OJK (Otoritas Jasa Keuangan), dan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) dalam mengatasi dampak Covid-19.
Upaya pemerintah dan beberapa daerah dalam menanggulangi dampak Covid19 juga mendapatkan apresiasi dan menunjukkan hasil yang positif," ungkapnya.

RUPIAH HARI INI, Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar AS Tembus 16.000, Kepanikan dan Prediksi Pasar

Kata Wiwiek, jumlah cadangan devisa per akhir Maret 2020 sebesar USD 121 miliar dinilai masih lebih dari cukup untuk membiayai kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri (ULN), dan stabilisasi nilai tukar rupiah.

"Jumlahnya pun akan meningkat dalam Minggu ini menjadi sekitar USD125 miliar dari penerbitan Global Bond oleh Kemenkeu," ucapnya.

Ia menjelaskan BI juga mendapatkan tambahan second line of defence dengan telah disetujuinya fasilitas Repo line sebesar USD 60 miliar dari The Fed yang  sudah siap digunakan, jika sewaktu-waktu diperlukan.

Repo Line tersebut sebagai antisipasi terhadap kebutuhan likuiditas dollar AS di tengah ketetatan secara global.

"Hanya sebagian kecil negara emerging market yang memperoleh fasilitas tersebut. Hal ini menunjukan kepercayaan Bank Sentral US terhadap BI dan prospek perekonomian Indonesia," katanya.(nat/tri bun-medan.com)

Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved