Diselimuti Sentimen Negatif, IHSG Terkoreksi, Saham Garuda Indonesia Turun Tajam

Kinerja sejumlah indeks bursa di Asia pada perdagangan hari ini juga mengalami penurunan.

(KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG)
PENGUNJUNG melihat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta 

TRI BUN-MEDAN.COM, MEDAN - Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini ditutup melemah 2.1 persen di level 4.496,06. Sementara rupiah diperdagangkan menguat di kisaran level 15.400 pada perdagangan, Sabtu (25/4/2020).

Diakuinya, seiring dengan hal tersebut, kinerja sejumlah indeks bursa di Asia pada perdagangan hari ini juga mengalami penurunan.

Sementara itu, sejumlah indeks bursa di Eropa juga dibuka melemah pada pembukaan perdagangan hari ini.

"Sentimen diakhir pekan ini memang sangat buruk. Selain ketegangan AS Iran, gagalnya uji klinis obat dari Gilead, jumlah pengangguran yang naik tajam, hingga diperpanjangnya lockdown di sejumlah negara memicu terjadinya tekanan pada pasar keuangan global," ujar Gunawan.

Ia menjelaskan sementara itu, sejumlah sentimen dari dalam negeri juga tidak begitu bagus. Diantaranya adalah bertambahnya jumlah angka pengangguran.

Pimpinan Panin Sekuritas Cabang Medan Sebut Outlook IHSG Minggu Ini Positif

Dampak pandemi corona ke ekonomi semakin hari semakin memburuk selama masalah mendasar corona itu sendiri belum teratasi.

"Pandemi Corona selama pekan ini masih mendominasi sentimen negatif. Respon Indonesia yang menutup sejumlah penerbangan hingga 1 juni juga diperkirakan akan membuat ekspektasi pertumbuhan ekonomi nasional kedepan semakin suram," ungkapnya.

Gunawan juga menjelaskan kinerja harga saham Garuda Indonesia pada perdagangan hari ini yang mengalami turun tajam sebesar 6.7 persen di level harga Rp 167 per lembar.

"Penurunan harga saham GIAA sudah mulai terjadi setelah pekan pertama bulan April. Trennya akan mengalami penurunan. Setelah pemerintah melarang pesawat pengangkut penumpang mengudara mulai 24 April hingga 1 Juni 2020," katanya.

Menurutnya, kebijakan tersebut jelas akan memukul industri penerbangan.

Banyak maskapai yang dirugikan karena kebijakan pelarangan tersebut.

"Tekanan Garuda bukan hanya datang dari kebijakan tersebut. Pelemahan mata uang rupiah juga berpeluang memicu kenaikan biaya operasional sehingga tren perkembangan harga saham kedepan masih berpeluang terkoreksi," ujar Gunawan.

Diakuinya, saham GIAA pernah menyentuh level harga terendah di harga Rp140 per lembar saham dalam satu tahun terakhir.(nat/tri bun-medan.com)

Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved